Click here for search results

Sanitasi Yang Buruk Menjadi Penyebab Kerugian Ekonomi Dan Kesehatan Yang Besar Di Indonesia (Siaran Pers)

Available in: English

Media Contacts:

In Jakarta:  Yosa Yuliarsa,+6221 5299 3003, +6281 5840 70650

yyuliarsa@worldbank.org


In Washington:  Christopher Walsh, +1 202 473 4594

cwalsh@worldbank.org

JAKARTA, 19 Agustus 2008  - Kerugian ekonomi dari buruknya sanitasi dan hygiene di Indonesia diperkirakan mencapai 6,3 miliar dolar Amerika (56 triliun rupiah), atau sekitar 2,3 persen dari Produk Domestik Bruto 2006, demikian menurut laporan riset yang diluncurkan hari ini oleh Water and Sanitation Program (WSP) dalam ajang World Water Week atau Pekan Air Sedunia di Stockholm.

Kajian tersebut, Economic Impacts of Sanitation in Indonesia, menemukan bahwa rendahnya akses terhadap sanitasi mengakibatkan kerugian ekonomi dan finansial yang sangat tinggi terhadap perekonomian Indonesia, tidak hanya terhadap individu tetapi juga terhadap sektor-sektor publik dan komersial .

Indonesia telah mencatat kemajuan dalam upaya pencapaian target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDG), tetapi melihat kecenderungan saat ini, negara ini akan mencatat kurangnya pencapaian target MDG sebesar 10 persen, atau sekitar 25 juta orang,”demikian menurut Ekonom Senior Water and Sanitation Program yang juga merupakan penyusun kajian ini, Guy Hutton. “Dibutuhkan investasi besar dalam penyediaan prasarana air bersih dan sanitasi maupun dalam mempromosikan praktik-praktik hygiene yang lebih baik di Indonesia mengingat dampaknya terhadap kesehatan maupun perekonomian.”

Sanitasi yang buruk menyebabkan setidaknya 120 juta kejadian keberjangkitan penyakit dan 50.000 kematian prematur setiap tahunnya, papar laporan tersebut. Dampak ekonomi dari hal tersebut mencapai 3,3 miliar dolar Amerika (29 triliun rupiah) per tahun. Sanitasi yang buruk juga memainkan peran signifikan terhadap pencemaran air: menambah beban biaya pengadaan air bersih untuk rumahtangga, dan mengurangi produksi ikan di sungai dan danau. Besarnya kerugian ekonomi dari tercemarnya air yang diakibatkan oleh buruknya sanitasi melebihi 1,5 miliar dolar Amerika (13 triliun rupiah) setiap tahunnya.

Pada tahun 2006 Indonesia mencatat kerugian sebesar 6,3 milyar dolar Amerika (56 triliun rupiah) sebagai akibat buruknya sanitasi dan hygiene, setara dengan 2,3 persen dari PDB.

Sektor sumberdaya air dan kesehatan merupakan penyumbang terbesar terhadap keseluruhan dampak ekonomi. Dampak-dampak ini menuntun pada kerugian finansial yang ditanggung oleh mereka yang harus membayar untuk biaya-biaya kesehatan, mereka yang membayar lebih mahal untuk mendapatkan akses layanan air bersih, dan mereka yang kehilangan pendapatan karena tidak masuk kerja karena sakit.

“Layanan air dan sanitasi dasar merupakan hal yang vital untuk kehidupan manusia, dan pada saat ini, semua orang tidak terkecuali seharusnya menikmati layanan tersebut,” dikatakan World Bank Water Sector Manager Abel Mejia. “Kajian ini mendukung fakta bahwa walaupun sudah mencatat berbagai kemajuan, masih banyak yang harus dilakukan untuk menghentikan kematian-kematian yang dapat dicegah [preventable deaths] maupun penyebaran penyakit.”

Bank Dunia saat ini mengelola portofolio global sejumlah 4,3 miliar dolar Amerika dalam sektor air bersih dan sanitasi yang bertujuan untuk meningkatkan akses kalangan miskin terhadap sarana air bersih dan sanitasi yang memenuhi syarat.

Water and Sanitation Program merupakan suatu kemitraan global yang didukung beragam donor dan dikelola oleh Bank Dunia yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan dengan membantu kalangan miskin mendapatkan akses terhadap layanan air bersih dan sanitasi. Donor Program termasuk Australia, Austria, Belgia, the Bill and Melinda Gates Foundation, Kanada, Denmark, Perancis, Irlandia, Luxembourg, Belanda, Norwegia, Swedia, Swiss, United Nations Development Programme, Inggris, Amerika Serikat, dan Bank Dunia.