World Bank Office Jakarta Jakarta Stock Exchange Building Tower 2, 12th Floor (62-21-5299-3000)
Contact:
In Jakarta: Prabha Chandran / Randy Salim Tel :(62 21) 5299-3084/3259 pchandran@worldbank.org rsalim1@wordbank.org In Washington: Anita Gordon / Roger Morier, Tel: 202-473-1799 / 202-473-5675 agordon@worldbank.org rmorier@worldbank.org
Washington, 11 Oktober 2007 - Bank Dunia berusaha meningkatkan kemampuan dunia untuk mengatasi perubahan iklim global dan penggundulan hutan secara signifikan melalui dua fasilitas pembiayaan karbon baru untuk memberi manfaat bagi dunia berkembang. Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) yang inovatif akan mencegah penggundulan hutan dengan memberi kompensasi kepada negara berkembang atas pengurangan karbon dioksida yang dihasilkan dari menjaga hutan mereka. Rincian fasilitas tersebut sedang dilengkapi, sama halnya dengan Carbon Partnership Facility (CPF). Keduanya bertujuan untuk mendukung negara-negara berkembang dalam gerakan mereka menuju jalur pembangunan yang menghasilkan lebih sedikit karbon, dengan membantu menghilangkan gas penangkap panas dari atmosfer yang mengubah iklim. “Negara-negara berkembang akan mendapatkan dana dan teknologi ramah lingkungan sebagai imbalan atas pengurangan emisi gas rumah kaca yang mereka jual ke negara maju,” ujar Presiden Kelompok Bank Dunia, Robert B. Zoellick. “Kedua fasilitas akan menguji coba jalan untuk meningkatkan usaha melawan perubahan iklim dengan mengadopsi pendekatan berskala besar dan berjangka panjang terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca. Mereka juga akan membina hubungan tradisional Kelompok Bank Dunia dengan negara-negara berkembang, serta hubungan baru yang telah dibangun dalam dasawarsa terakhir sebagai perintis dalam pembiayaan karbon.” Carbon Partnership Facility diharapkan untuk digunakan di area seperti pembangunan sektor listrik, efisiensi energi, pembakaran gas, transportasi, dan pembangunan perkotaan, termasuk sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi. “CPF sangat signifikan karena, bukannya membeli pengurangan emisi gas rumah kaca dari satu proyek secara satu per satu, misalnya dengan mengurangi emisi metana dari pembuangan limbah, kita dapat menjalankan 10 proyek secara bersamaan di suatu negara atau wilayah,” ujar Katherine Sierra, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Pembangunan Berkesinambungan. “Kita juga akan dapat membeli emisi gas rumah kaca melampaui 2012, yang akan membantu menghapus beberapa ketidakpastian yang melanda masa pasca-Protokol Kyoto.” Sebagian besar negara yang kaya hutan adalah negara-negara termiskin di dunia. Forest Carbon Partnership Facility akan mendukung program yang menargetkan dorongan nyata terhadap penggundulan hutan dan membangun kegiatan konkret untuk menjangkau masyarakat miskin yang bergantung pada hutan untuk meningkatkan kehidupan mereka. Hal ini juga akan membantu negara berkembang dalam membangun teknis, peraturan dan kapasitas perhutanan yang berkesinambungan untuk mengurangi emisi dari penggundulan hutan dan degradasi. Emisi ini sekarang mencapai sekitar 18 sampai 25 persen dari semua emisi gas rumah kaca global. Sekitar 20 negara Amerika Latin, Sungai Kongo, serta Asia Timur dan Pasifik telah meminta peluang untuk mengambil bagian dalam FCPF. Beberapa negara maju juga telah menunjukkan minat mereka untuk berpartisipasi. Kedua fasilitas dirancang sehingga sumber dayanya dapat digunakan di bawah sistem perubahan iklim baru yang dinegosiasikan setelah tahun 2012. CPF dan FCPF telah disetujui oleh Direksi Eksekutif Kelompok Bank Dunia. Keduanya diperkirakan akan diluncurkan secara resmi oleh Robert B. Zoellick di bulan Desember 2007, pada sesi ke-13 dari Konferensi Para Pihak untuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali, Indonesia.
Carbon Partnership Facility dan Forest Carbon Partnership Facility dikembangkan sebagai bagian dari Investment Framework for Clean Energy and Development (CEIF) Bank Dunia.
|