Kegiatan Sukarela Staf Bank Dunia: Mengunjungi Panti Asuhan

 
Mulai:   Aug 22, 2007 10:00
Akhir:   Aug 22, 2007 18:00

Sebuah Kunjungan Yang Berkesan dan Memberikan Arti Bagi Panti Asuhan dan Kantor Kami

Tanggap terhadap bencana alam melalui kegiatan pengumpulan dana, makanan dan kebutuhan pokok lainnya bukanlah sesuatu yang baru bagi staf Bank Dunia Jakarta, oleh karena seringnya bencana yang terjadi di Indonesia. Namun tidak selalu dukungan Asosiasi Staf ini berkenaan dengan musibah. Bahkan ada yang berkenaan dengan sesuatu yang menyenangkan. Dan tahun ini kami memutuskan untuk meninggalkan tradisi membawa yatim piatu ke kantor kami makan siang bersama pada Hari Kemerdekaan, 17 Agustus. Kami menjemput 63 anak yatim piatu dari panti asuhan yang terdekat dan membawa mereka ke ‘kompleks hiburan dan museum terbesar di Jakarta di Taman Mini Indonesia

Sebagai atraksi turis nomor satu di kota dengan reproduksi berbentuk bamboo tradisional dan rumah beratap sirap dari ragaman budaya dan warisan arsitekural negara kepulauan Indonesia, Taman Mini juga memberikan sebuah pengalaman baru dari hiburan dunia digital/surround sound/3 Dimensi IMAX. Kami harapkan bahwa sebuah pengalaman yang luar biasa ini akan membuka mata, juga akan merupakan stimulus bagi perkembangan anak-anak sama halnya dengan buku dan mainan.

Poster-poster berwarna meriah yang mengiklankan kegiatan ini memenuhi dua lantai Gedung Bursa Efek Jakarta di mana kami bekerja (Bank Dunia memiliki lebih dari dua kantor di Jakarta dan beberapa lainnya di Makasar, Banda Aceh, Nias dan Yogyakarta, sehingga merupakan kantor perwakilan terbesar) dan sumbanganpun mulai mengalir. Dalam dua minggu dana mencapai US$2.000 dan kotak-kotak mulai dipenuhi dengan buku, pakaian, mainan serta kebutuhan lainnya. Yogana Prasta, kepala Asosiasi Staf Jakarta mengatakan: “Saya harus akui bahwa awalnya saya agak ragu, akan tetapi kemudian menjadi sangat bersemangat ketika mengetahui respon yang sangat baik dari e-mail kami yang pertama. Staf kami mengelola sumbangan dan outing ini dengan sungguh-sungguh memperhatikan aspek keamanan dan keceriaan anak-anak. Meskipun anak-anak ini akan segera melupakan nama-nama kami, saya percaya mereka akan selalu ingat bahwa mereka pernah diajak pergi berpiknik oleh sekelompok orang Indonesia dan Warga Negara Asing yang mengatakan mereka datang dari Bank Dunia, suatu pengalaman pertama bagi sebagian besar dari mereka“

Berdoa sebelum melakukan perjalanan
 
Anak anak sangat senang ketika menaiki kereta mini di istana

Pagi hari tanggal 22 Agustus 2007, 30 staf Bank Dunia menjemput sekelompok anak-anak yang berumur 3 sampai 16 dan 17 tahun, dari sebuah panti asuhan bernama Yayasan Al-Khairiyah dilanjutkan dengan memakai tanda pengenal dan pembentukan masing masing kelompok. Tiga bis yang menuju area Taman Mini berjalan beriringan dengan penuh kegembiraan. Kegiatan pertama adalah makan siang McDonald dengan menu ala Indonesia – ayam goreng dan nasi, dilanjutkan dengan menonton pertunjukan teater IMAX, sebuah kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu. Dengan merasakan pengalaman seakan berada di Grand Canyon yang sangat tinggi membuat beberapa staf mengalami sedikit pusing, akan tetapi anak anak ini sersa tidak terpengaruh. Acara kemudian dilanjutkan, bagi anak-anak kecil menuju ke Istana Anak Anak sedangkan yang lebih dewasa menuju ke museum sains.

Di museum sains, simulator gempa bumi merupakan suatu atraksi yang sangat menarik perhatian. Suatu hal yang cukup mengherankan, mengingat kita tinggal di Jakarta, sebuah wilayah yang seringkali mengalami gempa dan sangat rentan. Bahkan setiap kantor kami yang di gedung tingkat tinggi memiliki tim tersendiri untuk evakuasi gempa bumi di setiap lantainya. Atraksi menarik lainnya yaitu simulator tsunami kemudian diikuti dengan pameran sains interaktif; beberapa staf pun belajar sesuatu di sini.

Berikutnya kami mengantri untuk menaiki sebuah gondola kabel yang bisa menyusuri area taman serta bisa terlihat beberapa bangunan khas masing masing daerah dari berbagai propinsi. Panorama ini merupakan salah satu dari atraksi pemandangan Taman Mini dan anak-anak sepertinya sangat bersemangat sekali: “Saya belum pernah datang ke tempat seperti Taman Mini ini, saya sangat senang..” tutur Roni, yang masih duduk di kelas 9 dan berumur 11 tahun, sedikit lebih tua dari teman sekelasnya. Roni mengaku Ibu nya telah meninggal sewaktu melahirkannya dan ayahnya telah tiada beberapa tahun lalu.

Panti Asuhan Yayasan Al-Khairiyah didirikan tahun 1986 dan saat ini memiliki 63 anak asuhan dari SD hingga SMU. Anak-anak ini sangat baik, berpakaian rapih, sangat gembira dan banyak yang terlihat sangat muda untuk golongan umurnya. “Dalam budaya kami, kami percaya bahwa yang melayani sebuah panti asuhan akan memperoleh pahala yang sangat besar untuk bekal di akhirat nanti,” tutur Wiwiek Sonda, yang mengepalai Layanan Informasi Pembangunan Indonesia Bank Dunia. Anak-anak yang gembira dan tersenyum dengan sendirinya menggugah kenangan yang menyayat hati dari lagu duka yang pernah dinyanyikan oleh yatim piatu korban tsunami di Aceh ketika satu tahun peringatan Tsunami yang membuat semua orang penting, termasuk Presiden Yudhoyono meneteskan airmata. Namun untuk saat ini, anak-anak terlihat puas dengan kegembiraan.

Dalam perjalanan pulang menuju ke panti asuhan yang diiringi sedikit hujan pada pukul 6.00 sore, Ketua Yayasan, Bapak Abdillah mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada kami: “Karena kami selalu berupaya keras untuk Makanan dan Buku Buku, kami tidak pernah berpikir untuk mengajak mereka untuk pergi Piknik. Kami sangat bahagia Bank Dunia telah membawa anak-anak ke Taman Mini, sebuah tempat yang belum pernah mereka kunjungi.” Sebagai informasi, sumbangan dari staf berhasil menyediakan 15 buah kasur, 200 kg beras, 10 kotak berisikan buku, mainan, permen dan kebutuhan pangan lainnya. Bakti Sudaryono, Manager Administration, sebagai orang yang telah membantu tersedianya logistik untuk acara ini serta membantu dalam penggalangan danay, mengatakan: "kami berharap dari kegiatan ini dapat memotivasi para staff untuk lebih giat lagi dalam kegiatan sukarela kemanusiaan seperti ini ”

Sekarang kita semua menjadi berpikir, siapakah yang lebih menikmati semua ini – para staf atau anak-anak? – namun yang sangat mengharukan bagi kami adalah ketika Irene, salah satu staff yang ikut berpartisipasi dalam program ini melaporkan bahwa beberapa anak menyisakan sebagian dari makanan ayam McDonald mereka – sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Sambil mengangkat sebuah kantong plastik makanan, seorang anak mengatakan, ”bagian ini untuk makan malam nanti.”


Dikontribusikan oleh Sally Burningham, Wiwiek Sonda dan Prabha Chandran

Jika Anda ingin berkontribusi dalam program keterlibatan masyarakat di Bank Dunia silahkan hubungi: yprasta@worldbank.org atau wsonda@worldbank.org



Permanent URL for this page: http://go.worldbank.org/Z64I3ZLPP0