Kemajuan Rekonstruksi di Nias

Bencana Tsunami bulan Desember 2004 dan gempa bumi bulan Maret 2005 menyebabkan kerusakan dan kehancuran yang parah terhadap prasarana dan perekonomian pulau Nias, yang mana keadaannya sudah lemah sebelum terjadi bencana. Bencana kembar tersebut menewaskan hampir 1000 orang, sementara diperkirakan 71.000 orang, atau sekitar 10 persen penduduk Nias, kehilangan tempat tinggal. Sektor perumahan terkena dampak paling parah, dengan 13.000 rumah hancur dan 24.000 rusak parah. Prasarana transportasi juga rusak parah. Dua belas pelabuhan besar dan kecil hancur dan lebih dari 1000 km jalan tidak dapat dilalui. Total kerusakan diperkirakan sebesar US$ 392 juta.

Proses rekonstruksi menghadapi berbagai macam tantangan, terutama disebabkan letak pulau yang terpencil. Bahan bangunan sulit diperoleh dalam jumlah yang cukup dan dengan harga yang terjangkau. Pengaturan logistik untuk membawa bahan-bahan yang dibutuhkan serta kapasitas angkutan truk yang terbatas ikut menyebabkan kurangnya persediaan pasokan dan terlambatnya proyek rekonstruksi. Panjang jalan yang tidak memadai dan kondisi jalan yang buruk, ditambah dengan kurangnya akses ke banyak desa, merupakan tantangan lain yang dihadapi oleh upaya rekonstruksi.

Dua tahun setelah disaster, dan terlepas dari awal yang lambat, upaya rekonstruksi mulai menunjukkan beberapa hasil (tabel 1). Sampai bulan Desember 2006, sekitar 5400 rumah baru dan 350 rumah sementara telah dibangun dan diperbaiki. Lebih dari 300 km jalan dan 37 jembatan telah dibangun. Satu rumah sakit di Gunung Sitoli, 19 sarana kesehatan, dan 124 sekolah permanen telah dibangun kembali atau diperbaiki untuk memulihkan penyediaan layanan sosial. Selain itu, tiga pelabuhan/dermaga dan dua bandara sedang dibangun. Kemajuan yang telah tercapai ini terselenggara atas upaya yang dijalankan bersama-sama oleh lebih dari 80 mitra, baik nasional dan internasional.

Tabel 1. Kemajuan Rekonstruksi Nias

Sectors

Damage/Needs

Progress by
March 2006

Progress by
December 2006

Housing

  • 13,500 unit houses
  • 1448 permanent house
  • 5440 permanent houses built/repaired
  • 350 non permanent houses/transitional house

Education

  • 755 out of 879 schools damaged/destroyed
  • 12 new schools built, 98 under construction
  • 200 schools tents
  • 124 permanent schools built/repaired
  • 214 temporary schools

Health

  • 2 hospitals
  • 170 health facilities required repair
  • Revitalization of Gunung Sitoli hospital
  • 16,000 children immunized against measles
  • 1 hospital rebuilt
  • 19 health facilities repaired

Infrastructure

  • 3 bridges.
  • 800 km district roads damaged
  • 266 km provincial roads damaged
  • 12 large and small ports/jetties destroyed
  • Upgrading 130 km provincial road and 126 km district roads
  • Preparation 12 ports
  • 37 bridges built
  • 309 km road built, 250 km under repaired
  • 3 ports/jetties and 2 airports under development
Source: Badan Rehabilitasi and Rekonstruksi Aceh-Nias


Pembelanjaan Rekonstruksi

Sampai akhir Desember 2006 sekitar US$ 495 juta telah dialokasikan untuk proses rekonstruksi di Nias. Jumlah ini sedikit melebihi perkiraan kebutuhan inti, yaitu US$ 423 juta (gambar 2). Alokasi diperkirakan akan meningkat terutama dari anggaran pemerintah (melalui BRR) sampai tahun 2009. Dana-dana tambahan ini memberikan kesempatan bagi kedua kabupaten di pulau Nias untuk memperbaiki layanan publik dan infrastruktur di daerahnya. BRR memperkirakan kebutuhan pembiayaan dapat lebih besar untuk membangun kembali lebih baik dan untuk meningkatkan pelayanan publik dan infrastruktur pada tingkat yang dapat diterima, disebabkan kondisi pulau Nias yang sudah lemah sebelum gempa bumi. Meskipun secara keseluruhan kebutuhan minimum inti telah terpenuhi, kabupaten Nias Selatan masih tetap kekurangan dana dan masih diperlukan US$ 19 juta untuk memenuhi kebutuhan rekonstruksi. Donor memainkan peranan yang penting untuk rekonstruksi di pulau Nias, menyumbangkan US$ 200 juta atau 40 persen dari total dana alokasi, disusul oleh pemerintah pusat (BRR) dan LSM, dengan kontribusi masing-masing sebesar US$ 131 juta dan US$ 159 juta.

Gambar 1. Alokasi proyek vs kebutuhan rekonstruksi untuk pulau Nias, Desember 2006

Keseluruhan (gabungan Nias dan Nias Selatan)

Nias and Nias Selatan

Sumber: Estimasi staf Bank Dunia, BRR, dan IOM Post Disaster Damage Assessment.

Pencairan atas dana yang telah dialokasikan relatif lambat di pulau Nias. Sampai dengan Desember 2006, baru 35 persen dari dana dialokasikan yang telah dicairkan (hal ini diperbandingkan dengan sekitar 50 persen di Aceh, yang juga terkena dampak yang parah akibat tsunami 2004). Biaya pengangkutan yang tinggi untuk mengirim material dengan feri dari Sumatera, jaringan transportasi yang buruk di pulau, kurangnya tenaga kerja trampil dan kurangnya bahan bangunan diutarakan sebagai tantangan utama upaya rekonstruksi di pulau Nias. Pada tingkat kabupaten, pencairan untuk dana yang dialokasikan di Nias adalah sekitar 43 persen sampai dengan akhir Desember 2006. Kurangnya kemajuan di kabupaten Nias Selatan mengkhawatirkan dimana sampai akhir Desember 2006 hanya 18 persen dana yang telah dibelanjakan.

Kemajuan Rekonstruksi BRR

Alokasi anggaran BRR untuk Nias dan Nias Selatan meningkat besar dari US$ 13 juta pada tahun 2005 menjadi US$ 118 juta pada tahun 2006. Peningkatan yang besar atas alokasi BRR pada tahun 2006 ini tidak dibagi merata antara kedua kabupaten. Kabupaten Nias menerima US$ 115 juta pada tahun 2006, sementara alokasi untuk Nias Selatan kurang dari US$ 3 juta, sedikit meningkat dari US$ 1.5 juta pada tahun 2005.

Secara keseluruhan, sektor perumahan dan infrastruktur, dengan US$ 100 juta or 76 persen dari total anggaran, menerima alokasi terbesar dari anggaran BRR. Hal ini sejalan dengan tingkat kerusakan sektoral yang diakibatkan oleh gempa, dimana rumah dan infrastruktur mengambil bagian 77 persen dari total kerusakan. Kesehatan dan pendidikan menerima alokasi terbesar kedua.

Meskipun menghadapi banyak tantangan, BRR menunjukkan tingkat pencairan yang relatif tinggi dibandingkan dengan pelaku-pelaku rekonstruksi yang lain. Sampai dengan Desember 2006, BRR telah mencairkan lebih kurang 60 persen dari anggaran tahun 2005 dan 2006 atau setara dengan US$ 75 juta, diikuti oleh LSM dan donor dengan 38 persen dan 20 persen dari alokasi dana masing-masing. Rasio pencairan berbeda antara sektor, dengan kesehatan dan pendidikan memiliki tingkat pencairan yang relatif tinggi – 75 persen – dibandingkan dengan sektor yang lain.




Permanent URL for this page: http://go.worldbank.org/0HDKI250S0