Pengembangan Sektor Perdagangan & Swasta

juga tersedia di: English

publication
 
Reformasi Positif dalam Kemudahan Melakukan Usaha.
Jumlah hari untuk memulai suatu usaha turun dari 105 menjadi 76, sementara biaya dan jumlah prosedur pun telah berkurang.

Siaran Pers | Situs Resmi
Report Overview
Country Report: Indonesia | Indonesia Data

Logistic Note
Short term measures on how to improve logistics traffic in Indonesia. Download

Kegiatan Untuk Iklim Investasi
Tim Pengembangan Sektor Swasta (Private Sector Development/PSD) Bank Dunia membantu pemerintah meningkatkan peraturan perundang-undangan di bidang investasi dengan tujuan untuk menyederhanakan prosedur investasi dan mencabut aturan-aturan yang tidak perlu.

 

DATA SINGKAT
Indicators in Indonesia (Figures show the most recent available data and the year)


SEKILAS

Sektor Swasta

Setelah setahun mengalami kinerja yang sangat lemah akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak pada tahun 2005, investasi di Indonesia mulai memperlihatkan tanda-tanda yang kuat terjadinya pemulihan pada triwulan terakhir tahun 2006 di mana pertumbuhan investasi per tahun meningkat menjadi 8,2 persen dari hanya kurang 2 persen pada empat triwulan sebelumnya. Pertumbuhan yang kuat berlanjut selama pertengahan pertama tahun 2007 dengan peningkatan investasi sebesar 7,3 persen, jauh di atas pertumbuhan PDB sebesar 6,1 persen. Sekali lagi, investasi memberikan sumbangan yang besar kepada perluasan ekonomi, yang mencapai lebih dari seperempat pertumbuhan PDB secara keseluruhan selama pertengahan pertama tahun 2007. Rasio antara investasi dan PDB yang anjlok dari hampir 30 persen pada pertengahan tahun 1990an menjadi hanya 19 persen pada tahun 2003, sekarang kembali mencapai 24 persen.

Kecenderungan investasi yang positif ini terutama disebabkan oleh kondisi ekonomi makro yang mendukung, di mana tingkat inflasi menurun secara tajam, suku bunga menurun, rasio utang-PDB menurun, ekspor meningkat, dan kurs relatif stabil. Tetapi dalam dua tahun terakhir, pemerintah telah memulai serangkaian tindakan reformasi yang dirancang untuk memperbaiki lingkungan usaha dan reformasi ini sekarang mulai memperlihatkan hasilnya. Tiga paket kebijakan ekonomi dikeluarkan pada tahun 2006, yang meliputi kebijakan iklim investasi, kebijakan infrastruktur, dan kebijakan reformasi sektor keuangan. Dan sebuah paket tindak-lanjut yang komprehensif dikeluarkan pada bulan Juni 2007 yang terdiri dari 168 tindakan reformasi yang spesifik untuk dilaksanakan selama 12-18 bulan ke depan. Perundang-undangan utama juga disusun oleh DPR pada tahun 2007, termasuk undang-undang investasi yang baru dan undang-undang administrasi perpajakan yang baru. Reformasi yang besar dalam administrasi perpajakan dan pabean sedang berlangsung dan mengalami banyak kemajuan di beberapa daerah. Sebuah survei terhadap perusahaan memperlihatkan bahwa dua tuntutan penting investor mengenai waktu restitusi pajak dan waktu perizinan impor telah dibatalkan pada tahun 2006 dan 2007.

Dari segi mikro, optimisme terhadap faktor internal maupun eksternal telah menghasilkan kinerja yang sangat baik dari perusahaan-perusahaan terbuka mayoritas yang terdaftar pada Bursa Efek Jakarta (JSX). Sekitar 78% dari 344 perusahaan yang terdaftar telah mendapatkan laba tahun lalu dengan total kapitalisasi laba sebesar Rp 55.4 trilyun, 14% lebih tinggi daripada tahun 2005. Alhasil, Price to Earning Ratio (P/E) JSX rata-rata meningkat menjadi 21x, hampir mendekati P/E Index Asia Pasifik rata-rata 25x. Peningkatan P/E ini memperlihatkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan pendapatan perusahaan-perusahaan.

Selanjutnya, sektor swasta tetap mengalami kemajuan meskipun harus menghadapi beberapa persoalan seperti kurangnya dukungan infrastruktur, corporate governance, peraturan birokrasi yang menghambat, dan sebagainya. Namun, komoditas sektor pertambangan dan perkebunan diharapkan dapat menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan sektor swasta

Trade

Tahun 2008 merupakan tahun yang baik untuk ekspor Indonesia. Lonjakan komoditas dan permintaan yang kuat mencatatkan rekor baru untuk ekspor Indonesia. Ekspor mengalami masa ekspansi yang luar biasa karena meningkatnya harga komoditas dan permintaan yang kuat dari wilayah dan pasar negara berkembang lain, seperti Malaysia, China, dan India. Total ekspor mencapai $136 miliar di tahun 2008 dan tumbuh kecepatan 20 persen per tahun. Sama halnya, total ekspor tahun 2007 mencapai $114 miliar, naik 13 persen dibandingkan tahun 2006. Memang pertumbuhan ekspor terutama mendapat dorongan dari ekspor pertanian dan sumber daya alam seperti CPO, karet, pertambangan, mineral, minyak bumi, dan gas alam. Namun, ekspor produk pabrikan tertentu, seperti pakaian, sepatu, dan otomotif pun meningkat pesat bersamaan dengan semakin besarnya daya saing Indonesia di pasar global.

Namun, pecahnya gelembung komoditas dan kiris ekonomi global menghantam ekspor di awal tahun 2009. Nilai ekspor terjun bebas sejak kuartal terakhir 2008 setelah mengalami pertumbuhan pesat sejak awal 2007. Nilai total ekspor di kuartal ke-4 2008 turun 6,2 persen year-to-year atau 22 persen quarter-to-quarter (gambar 1). Ekspor terus turun di bulan Januari 2009 dan turun sebesar 36,1 persen (yoy) atau 17,7 persen dibandingkan Desember 2008. Dalam cakupan yang luas, penurunan nilai ekspor telah mendorong jatuhnya harga minyak mentah yang menyebabkan ekspor minyak dan gas mengalami kontraksi sebesar 31 persen di kuartal ke-4 tahun 2008 secara year on year. (gambar 2). Penurunan harga kmoditas dan memburuknya pertumbuhan ekonomi mitra-mitra dagang utama Indonesia juga mengakibatkan penurunan dalam nilai ekspor pertanian, mineral dan pertambangan. Ekspor tekstil, pakaian, dan sepatu (TCF) Indonesia pun turun 15,5 persen (yoy) di bulan Januari 2009, bersamaan dengan semakin dalamnya krisis keuangan global dan berlanjutnya kontraksi ekonomi dunia.


Gambar 1: Perlambatan Ekspor sejak Kuartal ke-4 2008 Pertumbuhan Ekspor (% y to y)

 


Gambar 2: Perlambatan Ekspor Terdorong Sektor Pertanian dan Pertambangan
Pertumbuhan Ekspor Nonminyak dan Gas Utama (% y to y)


Sumber: BPS, WB

 

Arus dagang mulai pulih di kuartal kedua, menurut data nilai dagang dan laporan tidak resmi atas volume yang ditangani di pelabuhan-pelabuhan. Di bulan Mei 2009, nilai ekspor mencapai hampir 30 persen di atas tingkat terendah bulan Februari, karena pemulihan sebagian dalam harga energi (termasuk minyak sawit) dan beberapa komoditas lain, dan permintaan ekspor yang lebih tinggi atas beberapa barang. Impor naik hampir sepertiga karena alasan yang sama, walaupun impor barang modal tetap rendah.

Pemulihan dalam nilai ekspor secara luas sejalan dengan perkiraan yang disajikan dalam Indonesia Economic Quarterly bulan Juni lalu. Namun, perkiraan yang sedikit lebih kuat di tahun 2009 atas harga ekspor dan pertumbuhan mitra dagang utama Indonesia telah sedikit mendorong naik proyeksi ekspor, yang sekarang diperkirakan akan turun sebesar 12 persen dalam nilai di tahun 209, dan 10 persen dalam volume. Faktor yang sama ditambah kuatnya permintaan domestik di Indonesia juga membantu mengangkat perkiraan impor untuk tahun 2009. Total impor tahun 2009 sekarang diperkirakan hanya 11,6 persen lebih rendah daripada 2008; volume impor diperkirakan mengalami kontraksi ke jumlah yang lebih kecil.


Sumber: BPS & World Bank

 

width="3" Back to top

KEMAJUAN

Iklim Investasi

Investasi merupakan kunci bagi pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan jangka panjang yang berkelanjutan. Sebelum krisis ekonomi Asia tahun 1997/98, tingkat investasi di Indonesia mencapai 28%-30% dari PDB yang secara signifikan turut menurunkan angka kemiskinan dari tahun 1970an sampai 1997. Setelah krisis, investasi anjlok menjadi hanya 20%-22% dari PDB, pertumbuhan ekonomi melambat, program pengentasan kemiskinan terhenti dan angka pengangguran meningkat. Meskipun stabilitas ekonomi makro, sosial dan politik adalah kunci untuk menciptakan dasar pemulihan investasi yang berkelanjutan, reformasi ekonomi mikro juga sangat penting untuk mencabut rintangan-rintangan yang dihadapi investor swasta. Rintangan-rintangan ini meliputi ketentuan dan peraturan yang tidak perlu, sistem perijinan dan persetujuan yang kompleks, administrasi pajak dan pabean yang tidak efisien, dan korupsi. Perbaikan infrastruktur yang mengalami hanya sedikit kemajuan sejak krisis juga sangat diperlukan untuk mendukung investasi sektor swasta.


Analisa Rantai Nilai

Sektor udang dan tekstil/pakaian
Sektor udang dan sektor tekstil/pakaian mempunyai konotasi strategis bagi upaya Indonesia untuk meningkatkan perdagangan dan mengurangi kemiskinan.

Ekspor udang mencapai 920 juta Dolar AS pada tahun 2005 . Sekitar 1,7 juta petani dilibatkan dalam industri ini (seluruhnya berjumlah 6,8 juta jiwa yang perlu dinafkahi jika setiap petani harus menunjang tiga anggota keluarga).

Indonesia mengekspor produk tekstil dan pakaian senilai 8,7 milyar Dolar AS pada tahun 2005, yang berarti 10,3% dari seluruh ekspor Indonesia.

Namun, kedua sektor ini tampaknya telah kehilangan daya saing – pangsa pasar dunia untuk ekspor udang dan tekstil/pakaian Indonesia telah berkurang masing-masing sebesar 0,2% dan 0,6% selama lima tahun terakhir. Beberapa faktor penyebabnya adalah:

Di sektor tekstil dan pakaian:

  • Tekanan persaingan yang kuat dari Cina dan negara-negara lain dengan upah buruh yang rendah
  • Investasi yang rendah dan stagnasi teknologi
  • Produktivitas buruh yang rendah
  • Tindakan fasilitasi perdagangan yang lemah
  • Biaya operasional yang tinggi
  • Kurangnya strategi pasar
Di sektor udang:
  • Kurangnya kapasitas untuk mengekspor produk udang olahan bernilai tambah tinggi
  • Pelaksanaan standar produk pertanian dan pengolahannya yang lemah
  • Buruknya kualitas induk untuk menghasilkan anakan
  • Tingginya biaya pakan udang dibandingkan di negara-negara pesaing
  • Praktek pengelolaan yang buruk
  • Biaya usaha yang berat yang menambah biaya produksi


width="3" Kembali ke atas



ISU UTAMA

Iklim Investasi yang Sulit
Investasi merupakan kunci bagi pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan jangka panjang yang berkelanjutan. Sebelum krisis ekonomi Asia tahun 1997/98, tingkat investasi di Indonesia mencapai 28%-30% dari PDB yang secara signifikan turut menurunkan angka kemiskinan dari tahun 1970an sampai 1997. Setelah krisis, investasi anjlok menjadi hanya 20%-22% dari PDB, pertumbuhan ekonomi melambat, program pengentasan kemiskinan terhenti dan angka pengangguran meningkat. Meskipun stabilitas ekonomi makro, sosial dan politik adalah kunci untuk menciptakan dasar pemulihan investasi yang berkelanjutan, reformasi ekonomi mikro juga sangat penting untuk mencabut rintangan-rintangan yang dihadapi investor swasta. Rintangan-rintangan ini meliputi ketentuan dan peraturan yang tidak perlu, sistem perijinan dan persetujuan yang kompleks, administrasi pajak dan pabean yang tidak efisien, dan korupsi. Perbaikan infrastruktur yang mengalami hanya sedikit kemajuan sejak krisis juga sangat diperlukan untuk mendukung investasi sektor swasta. Lebih lanjut
..

Isu lainnya:
Daya saing yang rendah

width="3" Kembali ke atas

PROGRAM BANK DUNIA


Sektor Swasta

  • Doing Business
    Laporan tahunan Bank Dunia Doing Business mencatat adanya rintangan terhadap lingkungan usaha di 175 sistem perekonomian negara. Indonesia memiliki peringkat yang rendah dalam kebanyakan indikator. Dengan menggunakan database Doing Business yang terperinci, tim PSD sedang mengembangkan rencana aksi bagi pemerintah untuk memperbaiki peringkatnya dalam indikator-indikator utama.

    Misalnya, kemajuan dalam mempercepat waktu yang diperlukan untuk memulai suatu usaha dari saat ini 97 hari menjadi target pemerintah 30 hari dapat dicapai dengan menghapuskan langkah-langkah yang tidak perlu, seperti surat domisili, pungutan pendapatan negara bukan pajak, ketentuan untuk membuktikan modal yang disetor, dan persyaratan mengenai penerbitan, dan dengan menggabungkan Surat Izin Usaha dan Surat Tanda Daftar Perusahaan.

    Langkah-langkah lain dapat dipercepat dengan menentukan batas waktu yang ketat bagi kantor-kantor pemerintah untuk memproses permohonan-permohonan. Rencana-rencana aksi juga dapat dibuat untuk memperbaiki ketepatan waktu dalam membayar pajak dan mengimpor barang. Untuk mengembangkan rencana-rencana aksi yang terperinci, informasi dari database Doing Business akan disertai dengan pemeriksaan di lapangan dan pembahasan dengan pihak yang berwenang, wawancara dengan firma jasa pembukuan, firma hukum, notaris dan para profesional lain yang memahami rintangan-rintangan usaha, dan pembahasan dengan sektor swasta.

Program Bank Dunia lainnya:
Aktifitas untuk Iklim Investasi
Analisa Rantai Nilai
Program di Sektor Perdagangan

width="3" Kembali ke atas


Link Terkait
Situs global Bank Dunia untuk Doing Business

Doing Business
(Indikator untuk Indonesia)




Permanent URL for this page: http://go.worldbank.org/3BXZP0TN80