Kegigihan dan Sukses Warung Ibu Mini di Cikeusal (Cerita KDP)

Kecamatan Cikeusal, Propinsi Banten, Indonesia, November 2007- Apakah Anda pernah menemukan diri Anda sedang berkeliaran dengan bebas dan mencari tempat untuk bersantai di malam hari di daerah Banten? Jawabannya adalah, Anda bisa pergi ke Warung Ibu Mini, warung minum dan warung belanja pertama Kecamatan Cikeusal yang beroperasi selama 24 jam.

Warung Ibu Mini mulai didirikan dengan sejumlah pinjaman kecil dari Proyek Pembangunan Kecamatan (KDP), program Pemerintah Indonesia. KDP merupakan komponen kunci dari Program Nasional Utama Pemerintah untuk Pemberdayaan Masyarakat atau lebih dikenal dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) untuk mempercepat pengurangan kemiskinan. KDP dan PNPM didiukung oleh Pemerintah, Bank Dunia dan donor bilateral lainnya.

“Saya sering menjual kudapan untuk anak sekolah, namun sekarang, terima kasih Tuhan, dengan pinjaman dari KDP, saya dapat membuka warung ini dan keluarag kami menjadi lebih sejahtera.” - Ibu Mini

Waktu menunjukkan pukul 1.00 pagi di WarungIbu Mini. Gelas-gelas CoffeeMix instant berserakan seiring dengan dinginnya angin malam. Pengunjung yang kelaparan sedang memakan nasi uduk dan ayam goreng dengan lahap. Pengunjung lainnya duduk sambil menyilangkan kaki mereka atau meluruskan kaki mereka di atas tikar bamboo, sebagian dari mereka mengobrol, bermain catur, atau menghisap rokok mereka. Sebelumnya, seorang gadis kecil memohon ibunya untuk dibelikan sekantung kudapan dengan kemasan merah muda dan ia berjalan ke rumahnya dengan gembira dimana ibunya membawa sekantung belanjaan yang berisi obat pengusir nyamuk dan telur.

Ibu Mini ironisnya, merupakan perempuan dengan proporsi yang utuh; ia mengatakan hal ini sembari menghidangkan kopi dan minuman soda, ia sambil tertawa, seolah-olah ini pertama kalinya ia mengatakan lelucon ini. Ia perempuan yang santai, mudah tertawa dan juga pintar membuat orang lain tertawa. Suaminya merupakan seorang yang lebih pendiam dan biasanya ia akan duduk di antara para pengunjung, mengobrol dengan mereka sambil merokok dan minum kopi.

Ibu Mini baru saja mau mulai memasak seporsi nasi uduk – biasanya sekitar pukul 2 pagi, warungnya menjadi ramai dipenuhi oleh para petani yang baru saja pergi pasar Tangerang untuk menjual sayur mereka dan mampir ke warung untuk makan dalam perjalanan pulang ke Cikeusal.

Kepribadian Ibu Mini yang menyenangkan membantu hari-hari sulit yang harus ia hadapi bersama suaminya, terutama masalah pergantian jam tidur. Masa sibuk warung mereka biasanya dimulai pada pukul 9 malam hingga pukul 9 pagi. Pengunjung mulai dating pada sekitar pukul 9 malam dan warung Ibu Mini dipenuhi pengunjung pada tengah malam. Para petani tiba sekitar pukul 2 pagi, dan sekitar pukul 5 pagi, Ibu Mini pergi ke pasar Cikeusal untuk membeli kebutuhan warung seperti minyak, sayuran segar dan kebutuhan lain untuk dijual ke para tetangganya. Setelah menjual sayur-mayur di pagi hari dan memasak di siang hari, Ibu Mini tidur untuk beberapa jam dan kemudian bangun untuk menjaga warung lagi. DI sore hari, Anda mungkin akan melihat ia sedang tidur siang di kursi warung dimana biasanya anak perempuannya yang sedang duduk di bangku SMA menjaga warungnya. Ketika malam tiba, Ibu Mini dan suaminya akan bersiap-siap untuk melakukan rutinitas yang sama lagi.

Pelanggan yang sedang menikmati nasi uduk dan minum kopi di suatu malam di Warung Ibu Mini, Cikeusal.

Sebelum memiliki warung, Ibu Mini menjual gorengan dari satu rumah ke rumah lain. “Sebelum ada warung ini, saya menjual kudapan untuk anak sekolah – tahu goring, pisang goring,” jelasnya. “Biasanya saya bisa menghasilkan sebanyak Rp 30.000 – 40.000 per hari. Tidak banyak kan?” (Kurang lebih US$ $3.29–4.39)

Ibu Mini memulai bisnis warungnya pada tahun 2005 dengan menggunakan uang pinjaman sebesar Rp 200.000. Saat ini, ia bukan hanya menjual makanan dan minuman, tetapi ia juga menjual barang-barang supermarket termasuk sayur segar dari ladang, mie, sampo, sabun, dan juga barang-barang keperluan lainnya. Ia memasak nasi uduk dan juga jenis makanan rumah lainnnya dua hari sekali di rumahnya yang terletak berseberangan dengan warungnya. Ia juga punya bisnis catering untuk acara-acara pertemuan dan makan siang bersama. Pinjaman ia saat ini dari KDP adalah Rp.1.000.000 (US$109).

Berkat strategi bisnisnya yang berbeda, warung Ibu Mini saat ini menjadi tempat yang dikenal oleh masyarakat, suatu tempat yang tidak akan tertukar dengan tempat bisnis lain yang sejenis di area sekitar. Ia dan suaminya bergiliran menjaga warungnya, terkadang mereka menjaga warungnya bersama-sama. Penghasilan per harinya sejak ia melakukan pinjaman terakhir sudah naik menjadi sekitar Rp 350.000-500.000.

Ibu Mini dan warungna di waktu sore hari. Dengan pinjaman awal Rp 200.000, kini dia sedang menantikan pinjaman Rp 3.000.000. Pendapatannya telah meningkat 10 kali lipat dan bisa menyekolahkan anaknya yang paling tua ke SMU.

Meskipun ia dapat dikatakan sukses, uang tetap harus dihemat. Ibu Mini punya tiga anak, dan semuanya duduk di bangku sekolah. Dua anak tertuanya saat ini sudah duduk di bangku SMA, sebuah pencapaian yang jarang kita lihat di daerah pedesaan. Pendidikan tingkat SMA di Indonesia tidaklah murah: biaya masuk SMA putri pertamanya mencapai Rp. 1.600.000 (US$178). Dua anaknya yang lain membayar biaya masuk yang lebih murah, tetapi ia juga harus membayar biaya buku, seragam, dan perlengkapan sekolah lainnya.

Ibu Mini sedang memikirkan cara untuk mengembangkan bisnisnya. Di masa depan nanti, Warung Ibu Mini akan menjual sembilan bahan pokok bagi masyarakat Indonesia, seperti beras, gula dan minyak goreng. Ia juga berencana untuk menjual lebih banyak ragam rokok, meskipun selalu ada pertanyaan elemen moral dalam hal ini, tetapi rokok memang merupakan produk yang menguntungkan.

Pada bulan Juli 2007, saat dimana tahun ajaran baru sekolah dimulai, angina tornado memporak-porandakan Warung Ibu Mini. Sebagian besar uang mereka dialokasikan untuk merekonstruksi dan membeli lagi barang-barang yang akan mereka jual di warung, kemudian uang mereka dialokasikan untuk memberi makan kelima anggota keluarga, dan untuk melakukan pembayaran pinjamannya – ia tetap berhasil melakukan pembayaran tepat waktu. Mereka baru saja selesai membangun warungnya. Ibu Mini melihat kondisi sekitarnya; mereka terpaksa menggunakan bahan material yang murah untuk membangun warungnya setelah disapu oleh badai dan ia masih belum puas dengan hasilnya. Setelah mendapatkan pasokan modal berikutnya dari KDP, ia akan melakukan beberapa perbaikan.




Permanent URL for this page: http://go.worldbank.org/KWUPE6H670