11 Juni 2008, Sektor kesehatan Indonesia sedang memasuki masa transisi. Di tahun 2015, Indonesia diperkirakan memiliki populasi sekitar 250 juta. Sebagai tambahan atas perubahan besar dalam demografi ini, transisi epidemiologis dan nutrisional juga terjadi. Semua perubahan ini akan membutuhkan sistem kesehatan yang sangat berbeda dari sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini. Namun, walaupun masyarakat Indonesia hidup lebih lama, masih ada banyak anak-anak yang meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dan masih terlalu banyak ibu yang meninggal pada saat melahirkan. Walaupun Indonesia masih menanggung beban penyakit menular yang jumlahnya semakin menurun, jumlah penyakit tidak menular (diabetes, penyakit jantung, dan lainnya) meningkat tajam. Beban ganda dari penyakit yang sangat menular dan meningkatnya penyakit tidak menular memberikan tekanan tambahan pada sistem kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah memperkenalkan beberapa perubahan besar ke dalam sistem kesehatannya: desentralisasi telah memberdayakan kabupaten dan provinsi untuk mengelola dan membiayai bidan, perawat dan dokter; serta pengenalan sistem asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin (Askeskin) telah menciptakan peluang untuk menjaga masyarakat Indonesia yang paling rentan untuk tidak masuk ke dalam kemiskinan saat mereka sakit. Namun, Indonesia menghadapi kesulitan dalam mengimplementasikan reformasi yang berani ini. Sebagai contoh, masih tidak jelas kepada siapa para pekerja kesehatan bertanggung jawab, dan salah satu konsekuensi dari kurangnya pertanggungjawaban ini adalah tingginya tingkat ketidakhadiran kerja. Askeskin menghasilkan perluasan substansial dalam pengeluaran kesehatan dan mengangkat pertanyaan penting mengenai kesinambungan keuangan dalam cakupan asuransi kesehatan universal. Kesulitan ini merupakan cerminan tantangan yang lebih luas yang akan menghadang sektor kesehatan Indonesia di dasawarsa mendatang. Oleh karena itu, Health Public Expenditure Review (Health PER) ‘Investing in Indonesia’s Health: Challenges and Opportunities for Future Public Spending’ ini merupakan analisis yang sangat tepat waktu yang mendukung Indonesia dalam pengembangan dan implementasi strategi sektor kesehatannya dan membentuk masukan penting pertama bagi Pemerintah untuk Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah berikutnya (2009-14). Studi ini menyoroti sejumlah faset berbeda dari pengeluaran publik untuk kesehatan di Indonesia dan mengangkat serangkaian pertanyaan mendasar mengenai masa depan. Pertanyaan-pertanyaan ini mencakup kecukupan pendanaan secara keseluruhan, peran pengeluaran publik dibandingkan dengan swasta dalam sektor kesehtan, peran anggaran pusat dan daerah, mekanisme yang tepat untuk memobilisasi sumber daya dan membeli layanan, serta proporsi pengeluaran publik yang harus dialokasikan untuk kesehatan publik dibandingkan dengan perawatan medis individual. Laporan ini menyediakan sembilan gagasan untuk menjadikan sistem kesehatan lebih efisien. Health PER merupakan tindak lanjut Public Expenditure Review Indonesia 2007 dan menyusul keberhasilan model kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia. Health PER juga merupakan produk dari Initiative for Public Expenditure Analysis (IPEA), yang merupakan konsorsium menteri pemerintah utama, termasuk Menteri Keuangan, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, universitas-universitas di Indonesia dan Bank Dunia. Pemerintah Belanda menyediakan dukungan keuangan substansial. Laporan ini merupakan hasil kerja sama dengan staf dari Departemen Kesehatan dan Bappenas. | | |