Kontak : World Bank Office Jakarta Stock Exchange Building Tower 2, 13 Floor,Jl. Jend Sudirman Di Jakarta – Randy Salim Tel :(62 21) 5299-3259 rsalim1@worldbank.org Proyek CDM untuk pengelolaan limbah padat membuat Bekasi menjadi inovator perkotaan dalam pembangunan ramah lingkungan BEKASI, 2 Juli 2008 – Hari ini, Kotamadya Bekasi mengambil langkah penting menuju masyarakat yang lebih ramah lingkungan dengan dimulainya fasilitas pembakaran gas metana baru di TPA Sumur Batu. Melalui peristiwa ini, roda Kesepakatan Pembelian Pengurangan Emisi antara Bank Dunia dan PT Gikoko Kogyo Indonesia telah bergerak, memberi Bekasi arus pendapatan baru dari pembelian Pengurangan Emisi Bersertifikasi (Certified Emissions Reductions) sekaligus memberi kontribusi pada lingkungan global yang lebih sehat. “Mekanisme pembangunan yang bersih seperti yang diadopsi oleh Bekasi, tidak hanya membantu mengurangi emisi gas rumah kaca, tapi juga meningkatkan pengelolaan limbah padat sejalan dengan Undang-Undang Pengelolaan Sampah Padat (No 18/2008) dan menyediakan potensi pendanaan untuk masyarakat setempat, terutama mereka yang tinggal di sekitar TPA”, ujar Rachmat Witoelar, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia pada acara pembakaran gas perdana. “Melalui prakarsa ini, Bekasi memberikan contoh yang baik atas perlindungan lingkungan sekaligus mempersatukan tujuan ekonomi dan sosial”. TPA Sumur Batu di Bekasi, yang terletak di perbatasan Timur Laut TPA Bantar Gebang, DKI Jakarta, menerima sampai tujuh ratus meter kubik limbah padat setiap harinya. Fasilitas pembakaran gas, yang dibangun oleh para teknisi udara bersih PT Gikoko, mengumpulkan gas metana yang dihasilkan dalam proses pembusukan di TPA dan membakarnya, sehingga secara efektif mengurangi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh TPA Bekasi. Metana merupakan gas rumah kaca yang memberi kontribusi terhadap pemanasan global 21 kali lebih tinggi daripada karbon dioksida, kontributor utama pemanasan global. Berdasarkan kesepakatan untuk Bekasi, Bank Dunia sebagai wali amanah untuk Netherlands Clean Development Mechanism Facility, akan membeli 250.000 ton Certified Emissions Reductions (CER) setara CO2 sampai akhir tahun 2012. Dari kesepakatan yang ditandatangani oleh Bank Dunia dan PT Gikoko, tujuh belas persen dari pendapatan yang dihasilkan akan disalurkan untuk meningkatkan kehidupan para pengumpul sampah di sekitar lokasi, serta meningkatkan tingkat pengumpulan sampah di area tersebut. “Pembelian ini dimungkinkan oleh Mekanisme Pembangunan Bersih Protokol Kyoto, yang memampukan negara-negara untuk mencapai kuota pengurangan emisi mereka dengan membeli kredit dari proyek di negara-negara berkembang seperti Indonesia,” ujar Joachim von Amsberg, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. “Pihak yang paling diuntungan dari kesepakatan yang kiat lihat hari ini di Bekasi adalah Indonesia sendiri, karena mampu menemukan cara inovatif untuk meningkatkan pembangunan daerah serta memainkan peran aktif dalam mengatasi pemanasan global.” Proyek pembakaran gas TPA Bekasi hanya merupakan sepertiga dari proyek sejenis di Indonesia. Tahun lalu, Bank Dunia memfasilitasi kesepakatan serupa, bekerja sama dengan PT Gikoko, untuk mengumpulkan dan membakar metana dari TPA di Pontianak, Kalimantan Barat. Kedua proyek di Pontianak dan Bekasi merupakan hasil Kesepakatan Pembelian CDM Bilateral antara pemerintah Belanda dan Indonesia. Proyek serupa lain saat ini sedang dipersiapkan di Makassar, Sulawesi Selatan. Untuk mempelajari lebih lanjut dukungan Bank Dunia untuk Indonesia, kunjungi: www.worldbank.org/indonesia - |