| www.worldbank.org/id/education | | | |  |  |
| | Indikator di Indonesia (Angka berikut menunjukkan data terbaru yang tersedia dan tahunnya) | | | Most Recent Data | Year | | Net enrolment rate. Primary. Total | 49% | 2010 | Net enrolment rate. Primary. Total | 95% | 2010 | Net enrolment rate. Secondary. All programmes. Total | 58% | 2010 | Gross enrolment ratio. Tertiary (ISCED 5 and 6). Total | 25% | 2010 | Gross intake ratio. Primary. Total | 113% | 2010 | Out-of-school children. Primary. Total | 572,640 | 2010 | Gender parity index for gross enrolment ratio. Primary | 1 | 2010 | Percentage of repeaters in primary. All grades. Total | 3.58% | 2010 | Primary completion rate, total (% of relevant age group) | 97.95% | 2010 | Percentage of private enrolment. Primary. | 16.00% | 2009 | Drop-out rate. Primary. Total | 2.05% | 2010 | Pupil-teacher ratio. Primary | 17 | 2010 | Pupil-teacher ratio. Secondary | 12 | 2010 | Percentage of repeaters in secondary. All grades. Total | 0.48% | 2010 | Technical/vocational enrolment in secondary (ISCED 2 and 3) as % of total secondary enrolment (ISCED 2 and 3) | 20.10% | 2010 | School life expectancy (years). Primary to tertiary. Total | 13.2 | 2009 | Youth literacy rate (%). Total | 99.42% | 2010 | Public expenditure on education as % of GDP | 1.11% | 2009 | Public expenditure on education as % of total government expenditure | 19.27% | 2009 | | | | | |
Sistem sekolah Indonesia sangatlah luas dan bervariasi. Dengan lebih dari 50 juta siswa dan 2,6 juta guru di lebih dari 250.000 sekolah, sistem ini merupakan sistem pendidikan terbesar ketiga di wilayah Asia dan bahkan terbesar keempat di dunia (berada di belakang China, India dan Amerika Serikat). Dua menteri bertanggung jawab untuk mengelola sistem pendidikan, dengan 84 persen sekolah berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan sisa 16 persen berada di bawah Departemen Agama (Depag). Sekolah swasta pun memainkan peran penting. Walaupun hanya 7 persen sekolah dasar merupakan sekolah swasta, porsi ini meningkat menjadi 56 persen di tingkat menengah pertama dan 67 persen di tingkat menengah umum. Tingkat pendaftaran bersih sekolah dasar berada di bawah 60% di kabupaten-kabupaten tertinggal dibandingkan dengan di kabupaten maju yang memiliki pendaftaran universal. Tingkat pendaftaran bersih untuk pendidikan menengah mengalami peningkatan kuat (saat ini 66% untuk Sekolah Menengah Pertama dan 45% untuk Sekolah Menengah Umum) tapi tetap rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di wilayah ini. Indonesia juga tertinggal dengan para tetangganya dalam Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Tinggi, dengan tingkat pendaftaran kotor sebesar 21% dan 11,5% secara berurutan. Pendidikan merupakan hal penting bagi agenda pembangunan Pemerintah Indonesia. Belanja pendidikan telah meningkat secara signifikan di tahun-tahun terakhir setelah terjadinya krisis ekonomi. Secara nyata, belanja pendidikan meningkat dua kali dari tahun 2000 sampai 2006. Di tahun 2007, belanja untuk pendidikan lebih besar daripada sektor lain, yang mencapai nilai US$14 miliar, atau lebih dari 16 persen dari total pengeluaran pemerintah. Sebagai bagian dari PDB (3,4 persen), jumlah ini setara dengan jumlah di negara lain yang sebanding. Undang-Undang mengenai Pendidikan Nasional (No. 20/2003) dan Amandemen Konstitusi III menekankan bahwa semua warga Indonesia berhak mendapatkan pendidikan; bahwa Pemerintah wajib untuk membiayai pendidikan dasar tanpa biaya; dan bahwa Pemerintah diberi mandat untuk mengalokasikan 20% dari pengeluarannya untuk pendidikan. Undang-Undang mengenai Guru (No. 14/2005) memperkenalkan perubahan-perubahan penting atas syarat dan ketentuan pemberian kerja untuk sertifikasi guru, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Rencana strategis Departemen Pendidikan untuk 2005-9 memiliki tiga pilar utama: - Peningkatan akses terhadap pendidikan;
- Peningkatan kualitas pendidikan;
- Kepemerintahan yang lebih baik dalam sektor pendidikan.
Di tahun 2005, Pemerintah meluncurkan program yang disebut BOS (Biaya Operasional Sekolah), sebagai cara untuk menyampaikan dana secara langsung ke sekolah-sekolah agar anak-anak tetap bersekolah dan memberi sekolah kebebasan dalam mengelola dana mereka sendiri. Dalam mendukung hal ini sekaligus upaya desentralisasi secara umum, Pemerintah telah menetapkan prinsip Pengelolaan Berbasis Sekolah dalam sistem pendidikan nasional serta menyediakan kerangka untuk Standar Nasional Pendidikan. Tim pendidikan Bank Dunia berfokus dalam mendukung Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Pendidikan Nasional Mulai dari RENSTRA 2005-2009, Bank Dunia telah mengembangkan portofolio dukungan atas program-program utama yang diidentifikasi oleh Kementerian sebagai dukungan tambahan. Dialog Pendidikan Tematis yang dipimpin Bappenas (forum untuk Pemerintah dan mitra pembangunan dalam mendiskusikan masalah sektor di tingkat kebijakan) menyediakan arah bagi Bank Dunia dan mitra pembangunan mengenai area fokus untuk dukungan di masa depan. Forum tersebut saat ini memimpin Penilaian Sektor Pendidikan yang akan menyediakan dasar analitis untuk keputusan strategis mengenai arah RENSTRA 2010-2014, yang akan digunakan mitra pembangunan sebagai kerangka dukungan di masa depan. Program Bank Dunia akan menjembatani program RENSTRA 2005-9 dan 2010 dengan portofolio pinjaman investasi, dana perwalian, dan karya analitis berjalan dan yang akan datang mewakili Kementerian, menyediakan dukungan komprehensif atas karya Direktorat Jenderal di bidang kualitas guru, pendidikan dasar, pendidikan tinggi, dan pengembangan anak usia dini. Portofolio proyek Kluster Pendidikan terdiri dari proyek-proyek Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, Tinggi, dan Informal. Sebagai tambahan, proyek pelatihan remaja dan prakarsa di tingkat sektor saat ini akan dilakukan. Lebih dari US$ 830 juta diberikan sebagai komitmen untuk bidang Pendidikan kepada Pemerintah Indonesia oleh IDA dan IBRD. Total biaya proyek aktif dan proyek yang akan dilakukan adalah lebih dari US$1.5 miliar. Terlebih lagi, ada dana perwalian dalam jumlah besar yang akan mendukung program pemberian pinjaman.
|
Walaupun Indonesia telah pulih dari krisis ekonomi di akhir tahun 1990-an, negara ini masih tertinggal dari negara-negara tetangga sehubungan dengan akses terhadap layanan pendidikan yang bermutu. Fokus upaya tersebut saat ini adalah pada kualitas lembaga dan pengeluaran publik. Tantangan utama mencakup: - Pendaftaran sekolah menengah. Indonesia memiliki pendaftaran sekolah dasar yang hampir universal, tapi di tingkat menengah pertama, peningkatan berjalan lambat. Hanya 55 persen anak-anak dari keluarga berpendapatan rendah terdaftar di sekolah menengah pertama.
- Prestasi pembelajaran siswa. Indonesia terus mendapat prestasi yang rendah dalam uji berstandar internasional atas prestasi siswa, bahkan setelah memperhitungkan kondisi sosial ekonomi. Di tahun 2003, Indonesia mendapat posisi ke-33 dari 45 negara dalam Third International Mathematics Science Study (TIMSS). Di tahun 2006, Program for International Student Assessment (PISA), yang menilai seberapa baik kesiapan siswa berumur 15 tahun dalam menghadapi kehidupan, Indonesia mendapat peringkat 50 dari 57 negara dalam bidang ilmu pengetahuan, membaca dan matematika.
- Alokasi belanja. Walaupun belakangan ini terjadi peningkatan dalam belanja pendidikan secara keseluruhan, investasi Indonesia untuk pendidikan menengah, terutama menengah pertama, masih kurang. Pada saat yang sama, anggaran operasional telah ditekan karena peningkatan substansial dalam pengeluaran untuk gaji.
| | | | BOS - Knowledge Improvement through Transparency and Accountability (BOS-KITA) Program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) telah menyediakan hibah untuk setiap siswa ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia sejak tahun 2005. BOS merupakan bagian dari upaya Pemerintah dalam menyediakan pendidikan berkualitas kepada semua siswa di seluruh tingkatan pendidikan . Bank Dunia mendukung program BOS melalui program BOS KITA (Bantuan Operasional Sekolah - Perbaikan Pengetahuan untuk Transparansi dan Akuntabilitas), program yang bertujuan mempermudah akses ke pendidikan bermutu untuk semua anak usia 7 hingga 15 dengan memperkuat komite sekolah, meningkatkan partisipasi masyarakat, meningkatkan pengaturan fidusia demi transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar atas program BOS sehingga dana BOS saat ini dapat digunakan dengan lebih baik. Kedutaan Besar Kerajaan Belanda menyediakan dukungan tambahan sebesar $20 juta (sekitar 200 miliar Rupiah) yang bertujuan untuk membantu Departemen Pendidikan Nasional dalam memaksimalkan efektivitas Program BOS. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat sejumlah kegiatan: pengawasan, evaluasi dan penanganan keluhan; kampanye informasi dan pemasaran sosial; sekaligus memperkuat tim BOS yang ada di tingkat sekolah serta upaya komite sekolah dan orang tua. Baca juga: Bank Dunia Mendukung Peningkatan Keberhasilan Program Pendidikan (Siaran Pers) | Proyek BOS-KITA (2008 - 2010) | | Pemerintah Indonesia | US$2,021.507 juta | | Kedutaan Besar Kerajaan Belanda | US$52 juta | | Kedutaan Besar Kerajaan Belanda | US$20 juta | | Pinjaman IBRD | US$600 juta | | Total | US$2,641.50 juta | | Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek | Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) Proyek BERMUTU berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kinerja pengajaran. BERMUTU berarti "berkualitas" dalam Bahasa Indonesia. Proyek ini akan mempersiapkan kerangka kerja untuk memastikan bahwa guru memiliki peluang untuk meningkatkan pengetahuan mereka atas mata pelajaran yang mereka ajarkan, dan pada saat yang sama meningkatkan keterampilan mengajar mereka. Proyek ini pun berusaha meningkatkan sistem akreditasi untuk program pendidikan guru. Proyek ini akan berjalan dalam beberapa cara, melalui pendidikan guru berbasis perguruan tinggi, melalui program pengembangan guru tingkat lokal, dan melalui penemuan cara untuk meningkatkan sistem insentif dan pertanggungjawaban guru. BERMUTU akan berjalan secara langsung di perguruan-perguruan tinggi terpilih yang memiliki program pelatihan guru, yang menyediakan hibah dengan basis kompetitif untuk mendorong mereka dalam meningkatkan status akreditasi dan meningkatkan program penjangkauan mereka untuk melatih guru di wilayah pedesaan dan terpencil, terutama melalui metode berbasis TI. Proyek ini akan bekerja bersama kelompok guru, kepala sekolah dan pengawas di 16 provinsi dan 75 kabupaten/kota, dengan menyediakan peluang bagi para guru di wilayah pedesaan dan terpencil untuk meningkatkan keterampilan mereka melalui pembelajaran jarak jauh. | Proyek BERMUTU (2008 - 2013) | | Pemerintah Indonesia | US$57.1 juta | | Kedutaan Besar Kerajaan Belanda | US$52 juta | | Kredit IDA | US$61.5 juta | | Pinjaman IBRD | US$24.5 juta | | Total | US$195.1 juta | | Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek |
Baca juga: Bank Dunia Mendukung Program Peningkatan Kualitas Guru Indonesia melalui Bantuan US$86 Juta Baru (Siaran Pers)
Early Childhood Education and Development (ECED) Proyek ECED bekerja sama dengan Departemen Pendidikan untuk memastikan bahwa semakin banyak anak-anak dari keluarga miskin yang memiliki akses terhadap pendidikan, sehingga meningkatkan perkembangan dan persiapan mereka untuk pendidikan selanjutnya, sekaligus mengembangkan sistem ECED yang berkualitas secara berkesinambungan. Untuk mencapai tujuan ini, proyek berupaya untuk: - Meningkatkan kapasitas masyarakat miskin agar terlibat dalam perencanaan partisipatif yang akan menghasilkan layanan ECED baru atau yang ditingkatkan untuk anak-anak dan keluarga mereka, yang akan menyertakan dukungan atas status nutrisi dan kesehatan mereka.
- Mempersiapkan dasar untuk sistem ECED berkesinambungan melalui komitmen anggaran dari kabupaten yang berpartisipasi, pembangunan kapasitas kabupaten, serta pembentukan jaminan kualitas nasional dan sistem pembangunan profesional.
- Memastikan peningkatan berkelanjutan atas penyampaian layanan dan pembangunan sistem melalui pengelolaan proyek yang efektif, serta pengawasan dan evaluasi.
Proyek ini menargetkan sekitar 738.000 anak-anak usia 0-6 yang tinggal di sekitar 6.000 masyarakat miskin yang berlokasi di 3.000 desa di 50 kabupaten miskin di Indonesia. Setelah jelas bahwa pendekatan ini berjalan, Pemerintah akan mulai memperluas program ke lebih banyak anak-anak miskin di seluruh negeri. | Proyek ECED (2006 - 2013) | | Pemerintah Indonesia | US$35.1 juta | | Kedutaan Besar Kerajaan Belanda (hibah) | US$25.3 juta | | Kredit IDA | US$67.5 juta | | Total | US$127.9 juta | | Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek |
Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (IMHERE) IMHERE dimulai dengan Rencana Jangka Panjang Pendidikan Tinggi Pemerintah, yang mendukung pengelolaan dan administrasi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dalam Departemen Pendidikan Nasional, serta membantu pengembangan kerangka kerja hukum untuk pendidikan tinggi. IMHERE bertujuan untuk membantu menciptakan lingkungan yang memampukan perguruan tinggi negeri menjadi semakin otonomi dan lebih andal, sambil meningkatkan kualitas, relevansi, efisiensi dan kesamaan pendidikan bagi siswa. IMHERE mendanai pengembangan program akreditasi kelembagaan, BAN-PT, strategi untuk memulihkan Universitas Terbuka serta memperkuat pengelolaan dan administrasi perguruan tinggi. Komponen proyek telah dirancang untuk: - Memfasilitasi reformasi dan pengawasan sistem Pendidikan Tinggi.
- Menyediakan hibah untuk meningkatkan kinerja kelembagaan dan kualitas akademis.
- Merevitalisasi universitas negeri dan terbuka di bidang kepemerintahan, keuangan, penjangkauan, muatan, dan penyampaian.
| Proyek IMHERE (2005 - 2012) | | Pemerintah Indonesia | US$34.54 juta | | Kredit IDA | US$30 juta | | Pinjaman IBRD | US$50 juta | | Total | US$114.54 juta | | Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek |
» Informasi lebih lanjut mengenai Program Pendidikan Bank Dunia
| | |
|
|