Oktober 2008 - Selama lebih dari 6 bulan, sebuah tenda besar terbentang di sebuah lapangan terbuka di depan sebuah sekolah dasar di desa Mekar Jaya di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tenda ini bukan untuk penyelenggaraan pendidikan alternatif, tetapi untuk penyelenggaraan pendidikan di luar gedung sekolah dalam arti sesungguhnya. Dibangun pada tahun 1960-an, gedung SD Negeri Cihamerang sudah rusak dan memerlukan perbaikan cukup besar. Pada bulan Juli 2007, pengurus sekolah terpaksa memindahkan 140 murid kelas 3 dan 4 dari ruang kelas mereka yang sudah roboh ke ruang kelas darurat. Murid dan guru lebih memilih selamat daripada kenyamanan. Belajar di bawah tenda sangat menyiksa. Di tengah hari, ketika matahari menimpa langsung atap tenda, tenda seperti rumah kaca. Ruang kelas yang panas dan menyesakkan dada tidak membantu murid murid belajar, tetapi keadaan menjadi lebih parah ketika hujan turun: air hujan menyusup di sela-sela kelim atap dan menetes ke atas kepala murid-murid. Ketika tersedia dana dari PNPM - Generasi Sehat dan Cerdas, masyarakat setempat dengan cepat menyepakati rehabilitasi gedung SD Negeri Cihamerang sebagai prioritas. Wakil-wakil desa kemudian mengajukan usulan pembangunan gedung sekolah untuk mengganti ruang-ruang sekolah yang sudah rusak. Dari dana yang diberikan kepada desa Mekar Jaya sebesar Rp64.414.200 diperuntukkan bagi proyek rehabilitasi 2 gedung sekolah. Sumbangan berupa swadaya masyarakat diberikan dalam bentuk tenaga kerja sukarela. Warga desa, termasuk anakanak, menyumbangkan bahan bangunan, seperti batu, pasir dan bata; mereka memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan masingmasing. Bahkan ada sejumlah warga yang membawa satu batu bata atau satu botol pasir setiap hari ke lokasi pembangunan. Agar semangat murid-murid tetap tinggi, fasilitator PNPM Generasi mengadakan perlombaan “Menggambar Sekolah Impian Kita”. Fasilitator Kecamatan, Gresy Renisanty, terkesan sekali dengan gambar-gambar yang terkumpul. “Gambar gambar itu sangat indah, betul-betul mencerminkan perasaan yang timbul dari hati.” Pada 25 Februari 2008, sekolah impian itu bukan lagi sebuah impian. Gedung baru sudah selesai dan dilengkapi dengan perlengkapan kelas sebulan kemudian. Murid-murid mengatakan sekarang mereka dapat belajar dalam lingkungan yang sama seperti lingkungan yang dinikmati oleh murid-murid dari sekolah-sekolah yang lain. Sebelumnya ketika harus belajar di bawah tenda, murid-murid sering bolos karena mereka tidak tahan belajar dalam udara panas atau di bawah rintik-rintik hujan. Saat ini kehadiran murid mencapai hampir 100 persen; walaupun ada juga terjadi kekosongan absensi dikarenakan alasan kesehatan atau sakit. Melihat kembali kepada pengalaman itu, Gresy berkata, “Selama saya bekerja sebagai fasilitator untuk program ini dan program-program yang lain, inilah untuk pertama kali saya benar-benar merasa bangga menjadi seorang fasilitator. Saya dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. ” |