Bank Dunia dan Kesehatan di Indonesia

juga tersedia di: English

www.worldbank.org/id/health
publication

Pembiayaan Kesehatan di Indonesia: Rencana Terperinci Reformasi
Download laporan utama
Siaran Pers
Health Systems Analysis for Better Health System Strengthening: Lessons and Recommendations from World Bank Experience (Presentation)
Download
Does JAMKESMAS Protect the Population
from Health Expenditure Shocks ?
Download
Assessing the Impact of Jamkesmas on Skilled Birth Attendance in Indonesia Download
Indonesia sedang menghadapi tantangan kebijakan besar sehubungan dengan pembiayaan reformasi kesehatan, kelompok penerima subsidi, manfaat kesehatan tertentu yang disediakan, perubahan yang diperlukan dalam sistem penyampaian layanan,s ekaligus masalah peraturan dan administratif lain.

Laporan terbaru Bank Dunia mengenai kesehatan menjawab masalah-masalah ini.
Baca lebih lanjut


FAKTA SINGKAT
Indikator di Indonesia (Angka berikut menunjukkan data terbaru yang tersedia dan tahunnya)
Untuk mendapatkan data lengkap mengenai Kesehatan dan Populasi di Indonesia klik di sini

IKHTISAR

Hasil kesehatan telah membaik secara signifikan di Indonesia sejak 1960-an. Tingkat kematian anak turun dari 220 per 1.000 kelahiran hidup di tahun 1960 menjadi 45 per 1.000 kelahiran hidup di tahun 2007. Hasil awal Survei Kesehatan Demografi Indonesia (IDHS) 2007 menunjukkan penurunan signifikan dalam Rasio Kematian Ibu (MMR). Sama halnya, status nutrisi pun menunjukkan kemajuan pesat dari 38 persen di tahun 1990 menjadi 25 persen di tahun 2000. Faktor-faktor ini memberi kontribusi terhadap peningkatan harapan hidup dari 43 di tahun 70-an menjadi 70,5 di tahun 2008. Walaupun ada kemajuan di atas, peningkatan dalam Tingkat Kematian Anak (IMR), telah melambat, bahkan stagnan dalam lima tahun terakhir. Nilai rata-rata nasional menutupi seriusnya perbedaan geografis yang sedang terjadi termasuk variasi substansial dalam IMR antar provinsi dan tingkat malnutrisi. Perbedaan ini juga ditunjukkan dalam cakupan program kesehatan, misalnya kunjungan pada masa kehamilan, perawatan kelahiran yang terampil, serta tingkat imunisasi bayi yang lengkap.

Pada saat yang sama, Indonesia menghadapi tantangan demografi, beragam epidemi, dan berada pada persimpangan jalan nutrisi. Penyakit menular tetap merupakan tantangan signifikan terhadap sistem kesehatan seperti yang ditunjukkan dengan meningkatnya tren berbagai penyakit menular yang terabaikan, misalnya filariasis. Deteksi kasus tuberkulosis sangat bervariasi lintas wilayah. Pertumbuhan epidemi HIV/AIDS di kalangan kelompok berisiko tinggi sangat mengkhawatirkan, walaupun tetap terkonsentrasi, dengan tingkat prevalensi rendah di antara populasi umum. Penyakit tidak menular termasuk penyakit kardiovaskular, penyakit metabolisme, dan kanker, juga telah
terdeteksi meningkat dan menjadi penyebab utama kematian.

Investasi signifikan oleh Pemerintah dan masyarakat internasional yang menekankan perangkat keras sistemis telah meningkatkan akses ke perawatan kesehatan tapi kualitas yang buruk dan inefisiensi tetap merupakan hal yang mengkhawatirkan. Kinerja kesehatan yang lemah mengindikasikan tetap adanya inefisiensi dalam sistem kesehatan. Penyediaan layanan kesehatan sangat tergantung pada sektor publik, dan walaupun sektor swasta memiliki peran penting dalam penyampaian layanan, pengawasan sektor swasta masih lemah. Akses atas layanan berkualitas sering terhalang oleh kurangnya pekerja kesehatan yang berkualifikasi terutama bagi masyarakat miskin dan mereka yang tinggal di daerah terpencil.

Desentralisasi memberikan tantangan sekaligus peluang bagi sektor kesehatan. Di satu sisi, pembagian peran dan tanggung jawab kepada tingkat pemerintahan yang berbeda perlu diklarifikasi, misalnya dalam pengelolaan personel kesehatan. Di sisi lain, belanja untuk kesehatan publik dan porsi belanja publik di tingkat daerah setelah desentralisasi telah meningkat secara signifikan, pengeluaran pribadi masyarakat dan efisiensi alokasi dalam anggaran publik tetap merupakan hal penting dalam sistem pembiayaan kesehatan. Porsi pengeluaran pribadi masyarakat untuk kesehatan masih signifikan yang berarti tetap ada risiko untuk jatuh ke dalam kemiskinan karena peristiwa kesehatan yang fatal. Cakupan asuransi kesehatan bagi masyarakat miskin, yang sebelumnya dikenal sebagai Askeskin dan sekarang menjadi Jamkesmas, telah diperluas sehingga menjangkau lebih dari 30% populasi, dan diproyeksikan akan menjangkau seluruh populasi di masa depan. Keputusan seperti ini memerlukan evaluasi menyeluruh atas skema yang ada, termasuk analisis dan penilaian atas pilihan yang tersedia yang juga memperhitungkan kapasitas kelembagaan dan fiskal.

Strategi Departemen Kesehatan memiliki empat pilar: pemberdayaan masyarakat; pembiayaan kesehatan; akses ke layanan kesehatan; dan pengawasan. Pilar ini diterjemahkan menjadi program untuk mencapai tujuan berikut: pemberdayaan masyarakat akan dicapai melalui program Desa Siaga, yang mengawasi pekerja kesehatan (bidan dan/atau perawat) di setiap desa sampai 2009.

width="3" Kembali ke Atas




KEY ISSUES

Masalah utama dalam latar desentralisasi

  • Meningkatkan alokasi untuk kesehatan sekaligus meningkatkan efisiensi alokasi.
  • Memprioritaskan kesehatan ibu dan anak (atau reproduktif.
  • Memastikan ketersediaan informasi andal dalam mendukung proses pengambilan keputusan, misalnya NHA, biaya unit, permintaan informasi mengenai perkembangan skema asuransi kesehatan.
PROGRAM BANK DUNIA

Angkatan Kerja dan Layanan Kesehatan (HWS)
Proyek Angkatan Kerja dan Layanan Kesehatan mendukung desentralisasi sektor kesehatan di empat provinsi, yaitu Sumatra Barat, Jambi,
Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, yang berfokus pada pembiayaan berkelanjutan dan penyampaian layanan kesehatan yang berfokus pada klien. Sejalan dengan
desentralisasi, Proyek ini meningkatkan akses ke kualitas perawatan dan hasil kesehatan di tingkat kabupaten sekaligus memperkuat angkatan kerja kesehatan

Tiga komponen proyek ini dapat diterapkan di tiga tingkat kepemerintahan:

  1. Peningkatan pelayanan sistem kesehatan, termasuk kebijakan serta perencanaan, pengelolaan dan pengaturan sistem;
  2. Kesinambungan dan perluasan pembiayaan dan penyampaian layanan kesehatan; dan
  3. Penguatan kebijakan, pengelolaan dan pelatihan angkatan kerja kesehatan, termasuk peningkatan kualitas pendidikan medis.
Proyek Kesehatan & Angkatan Kerja (2003 - 2008)
Pemerintah Indonesia US$323.77 juta
Kredit IDA US$74.5 juta
Pinjaman IBRD US$31.1 juta
Total US$429.37 juta
Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek


width="3" Kembali ke Atas



Pasokan Air dan Sanitasi untuk Masyarakat Berpendapatan Rendah Kedua (WSSLIC II)
Proyek Pasokan Air dan Sanitasi untuk Masyarakat Berpendapatan Rendah Kedua berupaya meningkatkan status kesehatan, produktivitas, dan kualitas
kehidupan di desa tertinggal di Indonesia.
Komponen proyek telah dirancang untuk:

  1. Membantu masyarakat dalam menyusun kontrak dengan perusahaan setempat, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga akademis. Metode
    partisipatif di tingkat masyarakat akan dihubungkan dengan promosi kesehatan dan sanitasi sekaligus pengembangan, serta produksi bahan informasi publik dan pendidikan;
  2. Peningkatan kesehatan, perilaku sehat dan pengelolaan layanan kesehatan masyarakat terkait penyakit bawaan air, menyediakan pilihan sehat
    atas pembuangan limbah yang diperlukan oleh masyarakat. Kegiatan pendukung mencakup program kesehatan dan higiene masyarakat dan sekolah;
  3. Menyediakan air bersih kepada masyarakat melalui teknologi identifikasi dan tingkat layanan yang memadai.
Proyek WSSLIC II (2000 - 2009)
Hibah AustraliaUS$6.5 juta
Penerima manfaat setempat US$10.6 juta
Kredit IDAUS$77.4 juta
TotalUS$106.7 juta
Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek


width="3" Kembali ke Atas

Kualitas Pendidikan Profesional Kesehatan (HPEQ)
Tujuan Pengembangan Proyek spesifik adalah untuk meningkatkan pendidikan tinggi dalam sektor kesehatan melalui hal berikut:

  1. Penguatan kebijakan dan prosedur untuk akreditasi sekolah. Persiapan proyek akan berfokus pada pembangunan konsensus mengenai akreditasi kebijakan, standar, dan proses melalui serangkaian pertemuan keputusan yang menyertakan pemangku kepentingan utama untuk setiap profesi. Implementasi proyek akan mendukung pelaksanaan rencana tindakan untuk menggunakan standar akreditasi. Sumber daya proyek akan digunakan untuk biaya bantuan teknis, lokakarya, pelatihan, terbatasnya peralatan untuk implementasi proses akreditasi.
  2. Memastikan standar kualitas pendidikan melalui sertifikasi lulusan menggunakan ujian berdasarkan kompetensi nasional. Selama persiapan, proses analog untuk membangun dan merumuskan konsensus di antara pemangku kepentingan akan menghasilkan kesepakatan mengenai program untuk mengembangkan dan menggunakan ujian berdasarkan kompetensi nasional di tingkat sekolah. Sumber daya proyek akan digunakan untuk biaya bantuan teknis, lokakarya, pelatihan, terbatasnya peralatan untuk implementasi ujian berdasarkan kompetensi dan sertifikasi.
  3. Peningkatan kualitas sekolah melalui hasil berdasarkan hibah. Sambil mengembangkan kesepakatan mengenai akreditasi dan sertifikasi yang merupakan tugas inti persiapan proyek, proyek akan menggunakan hibah berbasis hasil untuk (i) upaya tingkat sekolah untuk memenuhi standar akreditasi; dan (ii) dukungan oleh sekolah-sekolah terkemuka dalam mempercepat kemajuan di antara sekolah-sekolah yang kurang kuat. Komponen ini akan menggunakan kesepakatan implementasi yang sebanding dengan yang berhasil digunakan dalam proyek pendidikan tinggi sebelumnya, termasuk Kualitas Proyek Pendidikan Strata Satu (QUE).
Proyek HPEQ (Perkiraan Efektivitas Jan 2010 - Des 2014)
Perkiraan Total Biaya Proyek US$100 juta
Perincian lebih lanjut ada di Database Proyek


width="3" Kembali ke Atas


Program AAA Penilaian dan Penguatan Sistem Kesehatan
Total Pendanaan mencakup £2,000,000 (dibiayai oleh DFID). Durasi: sampai Juni 2011

Tujuan utama HSS adalah agar Bank Dunia, dengan kontribusi keuangan dari DFID (Departemen untuk Pembangunan Internasional) Inggris dan bekerja sama dengan DFID dan donor lain, untuk memberi kontribusi dalam meningkatkan hasil kesehatan, keseteraan dan keberhasilan pencapaian MDG Kesehatan, terutama dalam mengurangi tingkat kematian ibu (MMR). Hal ini akan dilakukan dengan mendukung Pemerintah Indonesia dalam menjalankan Tinjauan dan Penilaian Sektor Kesehatan, mengembangkan pilihan untuk Reformasi Kebijakan Sektor Kesehatan dan upaya pembangunan kapasitas melalui upaya analitis sistem kesehatan tingkat provinsi tertentu serta mengujicobakan inovasi dan reformasi sistem. Tinjauan sektor kesehatan, produk utama yang akan didukung oleh kegiatan ini, berfokus pada menginformasikan Rencana Pembangunan Nasional
Pemerintah untuk lima tahun mendatang.

AAA memberikan usulan untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam beberapa tahap. Kegiatan dan output utamanya adalah:

  1. Membantu pemerintah dengan finalisasi Tinjauan Sektor Kesehatan dan Penilaian Kinerja Sistem Kesehatan, termasuk Kebijakan, Hambatan terhadap Akses, Kegiatan & Pembiayaan, Tinjauan Komprehensif atas Masalah Kesehatan Ibu;
  2. Bantuan dan saran teknis untuk mendukung Agenda Reformasi Pemerintah Indoensia yang mengidentifikasikan pilihan kebijakan prioritas yang dapat diimplementasikan sebagai input untuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014, sekaligus rencana awal (dan kemungkinan mulainya) pilihan kebijakan uji coba;
  3. Membantu Pemerintah Indonesia dalam implementasi agenda reformasi melalui kelanjutan bantuan dalam perancangan dan evaluasi uji coba dan kebijakan reformasi. Hal ini akan mencakup laporan mengenai pengujian pendekatan 'berdasarkan hasil' inovatif terhadap pengelolaan sistem kesehatan dan penyampaian layanan di tingkat terdesentralisasi, termasuk pendekatan yang menjanjikan yang memperluas proyek yang ada untuk mengatasi Tingkat Kematian Ibu dan Anak, ketidaksetaraan regional, rendahnya tingkat efisiensi teknis dan alokasi, serta keberlanjutan fiskal dari sudut pandang nasional dan daerah.

Peningkatan kesehatan ibu merupakan hasil yang diharapkan atas proses penilaian dan reformasi. Kontribusi DFID akan memastikan tinjauan komprehensif atas kebijakan kesehatan publik, hambatan atas akses, dan bantuan teknis untuk memastikan fokus pada kesehatan ibu melalui penilaian kesehatan dan identifikasi praktik yang baik.s

width="3" Kembali ke Atas


Related Links
World Bank Global Site for Health, Nutrition & Population
Health Data & Statistik
Ministry of Health Offcial Website
Education Topic in Indonesia


Related Publications
Giving more weight to health: Assessing fiscal space for health in Indonesia. (2009)

Use of modern medical care for pregnancy and childbirth care: Does female schooling matter? (2008)

Investing in Indonesia’s Health (2008)
Qualitative baseline study for PNPM Generasi and PKH : the availability and use of the maternal and child health services and basic education services in the provinces of West Java and East Nusa Tenggara (2008)
Health sector decentralization and Indonesia's nutrition programs: Opportunities and challenges (2006)
Review of water supply and sanitation financing in Indonesia (2006)
Risk Behavior and HIV Prevalence in Tanah Papua (2006) - .pdf
Addressing HIV/AIDS in East Asia and the Pacific. (2004)
Reducing maternal mortality - Learning from Bolivia, China, Egypt, Honduras, Indonesia, Jamaica, and Zimbabwe. (2003)

Health Strategy in a Post Crisis Decentralizing Indonesia (2002)

More related documents on Health in Indonesia





Permanent URL for this page: http://go.worldbank.org/PLZXACB650