World Bank Office Jakarta Indonesia Stock Exchange Building Tower 2, 12th Floor (62-21-5299-3000) Kontak: Di Washington DC: Mohamad Al-Arief malarief@worldbank.org Di Jakarta: Randy Salim rsalim1@worldbank.org
Tata kelola lingkungan dan adaptasi perubahan iklim dinyatakan sebagai tantangan utama
Laporan baru Bank Dunia yang diluncurkan hari ini menggarisbawahi tantangan kebijakan di tingkat atas yang dihadapi Indonesia dalam mencapai kelestarian lingkungan, sehingga dapat menyediakan lebih banyak dana untuk mendapatkan hasil pembangunan yang lebih baik. Country Environmental Analysis mengukur biaya ekonomi atas degradasi lingkungan dan menawarkan pilihan mengenai cara terbaik untuk mengatasi masalah prioritas tata kelola lingkungan dan adaptasi perubahan iklim. Laporan ini disusun melalui konsultasi yang luas dengan pemerintah Indonesia, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga riset.
Berdasarkan analisis, biaya degradasi lingkungan terhadap perekonomian Indonesia dapat dirangkum sebagai berikut:
Modal alam yang mencapai sekitar seperempat total kekayaan Indonesia tapi menyusut cepat dan tidak diimbangi dengan investasi yang mencukupi dalam modal sumber daya manusia atau yang dihasilkan.
Perubahan iklim akan menciptakan sejumlah dampak negatif di Indonesia, termasuk penurunan produksi panen, risiko banjir yang lebih besar, serta penyebaran penyakit bawaan vektor yang lebih luas, dengan proyeksi biaya ekonomi mencapai 2,5-7,0 persen PDB di tahun 2100.
Sanitasi yang buruk diperkirakan telah menimbulkan biaya kesehatan, air, pariwisata yang besar dan biaya kesejahteraan lain senilai lebih dari $6 miliar di tahun 2005, atau lebih dari 2 persen PDB tahun itu.
Polusi udara di luar dan dalam ruangan diperkirakan menimbulkan dampak kesehatan sekitar $5.5 miliar per tahun atau sekitar 1,3 persen PDB (2007).
Penggundulan hutan sejak 2001 telah mencapai lebih dari 1 juta hektare per tahun. Tingkat ini telah mengalami penurunan dari 2,5 juta hektare per tahun, tapi masih sangat tinggi dibandingkan dengan negara berhutan tropis lain. Penggundulan hutan dan konversi lahan gambut menyebabkan degradasi lingkungan, kerugian kesehatan dan keanekaragaman hayati, serta emisi gas rumah kaca.
“Degradasi lingkungan menimbulkan biaya tinggi untuk Indonesia. Namun, melalui pemberlakuan undang-undang baru mengenai lingkungan, ketenagalistrikan dan pengelolaan limbah padat, Indonesia secara jelas berada di jalur menuju masa depan dengan lingkungan yang lebih lestari,” ujar Joachim von Amsberg, Kepal Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. “Langkah selanjutnya dalam transformasi ini adalah menyeimbangkan kerangka kerja hukum ini dengan kapasitas dan insentif yang memadai di semua tingkat pemerintahan, sekaligus mengambil tindakan adaptasi dan mitigasi yang sesuai untuk mengatasi perubahan iklim.”
Indonesia telah diidentifikasi sebagai salah satu negara Asia yang paling rentan terhadap bahaya perubahan iklim. Kekeringan, banjir, kenaikan permukaan laut, dan longsor merupakan bahaya yang akan berdampak pada masyarakat miskin yang tinggal di pesisir pantai dan bergantung pada pertanian, perikanan dan kehutanan sebagai sumber penghasilan mereka. Namun, dengan tindakan adaptasi yang tepat, manfaat tahunan dari menghindari kerusakan akibat perubahan iklim kemungkinan akan melebihi biaya tahunan tanpa adanya investasi adaptasi sampai 2050.
“Perubahan iklim meningkatkan kesulitan dalam mencapai pembangunan yang berkesinambungan, sekaligus membawa peluang untuk pertumbuhan rendah karbon dan pembiayaan iklim untuk mitigasi dan adaptasi. Seperti yang disebutkan dalam pidato Presiden Yudhoyono pada pertemuan G-20 terbaru, hal yang lebih penting adalah Indonesia benar-benar berkomitmen untuk mencapai kelestarian dan telah mengambil tindakan,” ujar Timothy H. Brown, Senior Natural Resources Specialist untuk Bank Dunia di Indonesia. “Mitra internasional seperti Bank Dunia siap membantu Indonesia mencapai kesinambungan yang lebih besar dan mewujudkan ambisi pertumbuhan rendah karbon.”
Dalam Pertemuan Para Pemimpin G-20 di Pittsburgh, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa Indonesia mau mengurangi emisi sampai 26 persen di tahun 2020; merencanakan pengurangan satu miliar ton CO2 di tahun 2050; berusaha membuat kehutanan menjadi area penyerapan karbon di tahun 2030; melanjutkan kebijakan efisiensi bahan bakar; dan menjadikan transportasi umum lebih ramah lingkungan dalam 10 tahun mendatang.
LEMBAR DATA
Country Environmental Analysis: PilihanMemperluas Akses ke Tata Kelola Lingkungan
Pemerintah
Bekerja bersama pemangku kepentingan lain dalam mengawasi dan menilai kinerja lembaganya dalam memenuhi akses ke informasi, partisipasi dan keadilan, serta mendorong adopsi kebijakan yang lebih menjamin pencapaiannya.
Mendorong proses reformasi hukum yang menyelaraskan situasi de jure dan de facto.
Menyediakan sistem terintegrasi yang dapat menjamin akses, terutama untuk kelompok yang terpinggirkan.
Mengembangkan kapasitas lembaganya melalui penugasan staf yang dilatih secara khusus, penyediaan infrastruktur dan fasilitas yang diperlukan, serta alokasi pendanaan yang memadai.
Meningkatkan kerja sama dengan media dan LSM, serta pemangku kepentingan lain yang berpotensi mendorong pencapaian prinsip akses.
Media
Secara aktif dan terus menerus memeriksa kinerja pemerintah dalam hal akses.
Meningkatkan perhatian terhadap masalah lingkungan, termasuk pengambilan keputusan yang kemungkinan memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.
LSM
Memonitor proses reformasi hukum untuk memastikan bahwa kesenjangan antara situasi de facto dan de jure dapat dijembatani.
Bekerja sama dengan Pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk mendorong akses yang lebih baik.
Mendorong peningkatan permintaan publik atas akses ke informasi, partisipasi dan keadilan.
Mengembangkan kapasitasnya sendiri dan kapasitas publik, terutama kelompok yang terpinggirkan dalam mendapatkan akses ke informasi, partisipasi dan keadilan.
Adaptasi Perubahan Iklim
Reaktif/Responsif
Proaktif/Antisipatif
Sumber Daya Air
Perlindungan terhadap sumber daya air tanah
Peningkatan pengelolaan dan pemeliharaan sistem pasokan air yang ada
Perlindungan terhadap daerah tangkapan air
Peningkatan pasokan air
Pengumpulan dan desalinasi air tanah dan air hujan
Penggunaan air daur ulang yang lebih baik
Konservasi daerah tangkapan air
Peningkatan sistem pengelolaan air
Reformasi kebijakan mengenai air termasuk kebijakan irigasi dan penetapan harga
Pengembangan pengendalian banjir dan pengawasan kekeringan
Pertanian
Pengendalian erosi
Pembangunan bendungan untuk irigasi
Perubahan dalam penggunaan dan aplikasi pupuk
Pengenalan panenan baru
Pemeliharaan kesuburan tanah
Perubahan dalam waktu tanam dan panen
Pergantian ke tanaman pangan yang berbeda
Program pendidikan dan penjangkauan mengenai konservasi dan pengelolaan tanah dan air
Pengembangan panenan berdaya tahan (terhadap kekeringan, garam, serangga/hama)
Penelitian dan pengembangan
Pengelolaan tanah dan air
Diversifikasi dan intensifikasi pangan dan tanaman pangan
Tindakan kebijakan, insentif pajak/subsidi, pasar bebas
Pengembangan sistem peringatan dini
Kehutanan
Peningkatan sistem pengelolaan termasuk pengendalian penggundulan hutan, reboisasi, dan konversi tanah menjadi hutan
Promosi pertanian kehutanan untuk meningkatkan barang dan jasa kehutanan
Pengembangan/peningkatan rencana pengelolaan kebakaran hutan nasional
Peningkatan penyimpanan karbon di hutan
Penciptaan taman/cagar alam, lindungan dan koridor keanekaragaman hayati
Identifikasi/pengembangan spesies yang tahan terhadap perubahan iklim
Penilaian kerentanan ekosistem yang lebih baik
Pengawasan spesies
Pengembangan dan pemeliharaan bank benih
Sistem peringatan dini kebakaran hutan
Pantai/Laut
Perlindungan terhadap infrastruktur ekonomi
Kesadaran masyarakat untuk meningkatkan perlindungan terhadap ekosistem pantai dan laut
Pembangunan tembok laut dan penguatan pantai
Perlindungan dan konservasi terumbu karang, hutan bakau, rumput laut, dan tanaman pantai
Pengelolaan zona pantai terintegrasi
Perencanaan dan pembagian daerah pantai yang lebih baik
Pengembangan peraturan atas perlindungan pantai
Penelitian dan pengembangan ekosistem pantai
Kesehatan
Reformasi pengelolaan kesehatan masyarakat
Peningkatan kondisi perumbahan dan kehidupan
Peningkatan tanggapan darurat
Pengembangan sistem peringatan dini
Pengamatan dan pengawasan yang lebih baik terhadap penyakit/vektor