Latar Belakang Bagi masyarakat miskin, berbagai peristiwa bencana seperti penyakit, kecelakaan, PHK, gagal panen atau kematian memberikan dampak yang jauh lebih kuat. Mereka mengalami kerugian yang lebih besar terutama dibidang finansial antara lain karena mereka tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menyerap guncangan yang diakibatkan bencana, atau mereka tidak punya akses ke sumber kredit yang lebih murah setelah mereka mengalami bencana. Hal tersebut pada akhirnya semakin menjerumuskan mereka kedalam jurang kemiskinan. Dalam hal ini, dibutuhkan sistem manajemen risiko yang lebih baik untuk menopang masyarakat berpenghasilan rendah, agar mereka terbantu dalam menghindari tekanan finansial yang semakin besar. Salah satu solusi yang memungkinkan adalah ‘asuransi’. Sayangnya masih banyak faktor yang menghambat masyarakat miskin mengakses atau menggunakan asuransi, antara lain:
Produk asuransi yang kurang baik atau yang kurang dirancang dengan baik
Standar penyediaan layanan yang masih belum memadai (misalnya penyelesaian dan dokumentasi klaim)
Biaya transaksi yang besar (mendistribusikan produk asuransi rendah biaya)
Lingkungan operasional dan peraturan yang menyulitkan bagi penyedia jasa (berurusan dengan penyediaan layanan yang bersifat non-tradisional dan jalur-jalur distribusi)
Informasi yang kurang memadai yang menyebabkan penetapan harga risiko yang bersifat konservatif atau premi awal yang tinggi,
Persepsi yang kurang baik terhadap risiko, terutama karena kurangnya kesadaran atau ketidaktahuan mengenai bidang keuangan
Meningkatkan pengelolaan risiko dan mengembangkan instrumen yang lebih baik untuk menyebarkan risiko dikalangan masyarakat miskin akan menjadi sangat penting bagi upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir penyedia jasa asuransi telah bergerak secara aktif di tataran asuransi mikro. Produk-produk baru seperti asuransi jiwa dan asuransi cacat (misalnya, lebih dari sekedar asuransi kredit tradisional), asuransi jiwa yang dibundel dengan tabungan (misalnya, asuransi dwiguna atau endowment) untuk membiayai kebutuhan pendidikan anak, asuransi terhadap resiko banjir (misalnya, asuransi indeks banjir) dan asuransi kesehatan dari pemerintah, Jamkesmas, telah membuka wawasan baru bagi penyedia jasa asuransi pada umumnya dan masyarakat miskin pada khususnya, untuk secara aktif mengelola risiko mereka. Walaupun terjadi lonjakan, namun sepertinya tetap ada permintaan besar – supply gap dalam hal akses asuransi bagi masyarakat miskin. Diperkirakan bahwa tidak lebih dari 1,5-2,0 juta dari lebih dari 34 juta penduduk miskin hidup di bawah garis kemiskinan di Indonesia (sekitar 1,7 US$/hari/kapita PPP) memiliki akses asuransi (tidak termasuk Jamkesmas). Untuk membuka potensi pasar ini dan memperluas akses, inovasi dan kreativitas harus dibebaskan. Kemitraan yang baru dan non- konvensional (lihat Lampiran) harus lebih digiatkan. Dalam rangka mendukung tercapainya tujuan inilah Bank Dunia bekerja sama dengan Dewan Asuransi Indonesia meluncurkan 1st Microinsurance Development Market Place.
Tujuan Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan penyedia jasa asuransi dan pengusaha swasta telah menerjemahkan ide-ide baru, pendekatan, praktek, metode, dan teknologi kedalam berbagai hal yang memberikan dampak nyata di bidang asuransi mikro, memperkenalkan produk baru, meningkatkan layanan asuransi - kesehatan, pendidikan, alam bencana dan jaminan sosial baik di dalam maupun diluar Indonesia. Permasalahan utama yang dihadapi adalah bahwa inovasi-inovasi tersebut, yang sebagian besar telah diadopsi secara lokal, tidak diketahui secara luas, dan sering tidak bisa ditingkatkan lingkup pelaksanaanya karena kurangnya sumber daya dan paparan terhadap apa yang terjadi di tempat lain.
Tujuan diadakannya marketplace ini adalah untuk:
Memberikan kesempatan untuk menampilkan inovasi-inovasi dalam asuransi mikro di berbagai aspek (antara lain mencakup produk baru, distribusi dan penyediaan pelayanan yang inovatif, penggunaan teknologi dan informasi termasuk ponsel) dan berperan sebagai platform untuk menyatukan para inovator dan lembaga yang tertarik pada inovasi. Dengan demikian acara ini pada akhirnya akan mengarah pada penciptaan Kemitraan
Untuk mengidentifikasi dan memperkenalkan inovasi-inovasi ditingkat akar rumput
Secara keseluruhan, untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi pendekatan-pendekatan baru untuk diujicobakan di bidang asuransi mikro, terutama dalam konteks sosial-ekonomi yang cukup menantang.
Agenda:
Rabu, 26 Oktober 2011 Hari pertama ini akan dipenuhi oleh serangkaian sesi pleno seputar tema-tema utama dari marketplace ini. Sesi pleno akan diawali dengan Pengantar Asuransi Mikro sebagai sesi pleno pertama. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yang membahas Pengembangan Produk Asuransi Mikro, Isu-isu dari Sisi Penawaran dan Persediaan, Sesi ini akan membahas mengenai prasyarat penting bagi keberhasilan asuransi mikro-pengembangan produk asuransi mikro-untuk memastikan produk yang tepat dapat diluncurkan ke pasar secara efektif. Sesi pleno ketiga akan membahas mengenai Distribusi dan Pengelolaan Klaim Produk-Produk Asuransi Mikro; Sesi ini akan menyediakan pemahaman mengenai isu-isu dan tantangan dibidang distribusi serta administrasi dan pengelolaan klaim asuransi untuk rumah tangga berpendapatan rendah dan tidak terorganisir, selain itu juga akan menjajaki inovasi dan jalur distribusi alternatif dibidang teknik-teknik pengelolaan klaim dan akan menyoroti pengalaman internasional yang sukses. Sesi pleno yang terakhir pada penghujung acara hari pertama adalah mengenaiPeraturan Bidang Asuransi Mikro – Isu-isu yang mengemuka berdasarkan pengalaman internasional, Sesi ini akan mengumpulkan berbagai perspektif pasar dan juga pembuat aturan mengenai lingkungan yang tepat untuk mendukung berkembangnya bisnis asuransi mikro.
Kamis, 27 Oktober 2011 Hari kedua akan diisi dengan konferensi ide-ide inovatif dibidang asuransi mikro yang dibarengi dengan pameran praktik-praktik yang ada atau berlangsung di pasar internasional (oleh 10 perusahaan/organisasi) dan ide-ide inovatif (dari 10 finalis).