Peluncuran Laporan Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Tenggara 2012

juga tersedia di: English

Kantor Bank Dunia Jakarta
Gedung Bursa Efek Indonesia
Tower 2, Lantai 12 (62-21-5299-3000)
Kontak:
Di Jakarta:Nugroho Nurdikiawan Sunjoyo (62-21) 5299-3150
nsunjoyo@worldbank.org
Di Washington DC: Mohamad Al-Arief  (1-202) 458-5964
malarief@worldbank.org


Kinerja Pelayanan Publik dan Tantangan Pembangunan di Bumi Haluoleo


Kendari, 24 Januari 2012.  Universitas Haluoleo bekerjasama dengan Bank Dunia dan didukung oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, CIDA, AusAID, dan Yayasan BAKTI baru-baru ini mengeluarkan laporan Analisis Keuangan Publik Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2012. Berdasarkan studi tersebut, Sulawesi Tenggara adalah provinsi berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang secara konsisten lebih tinggi dari angka pertumbuhan nasional dalam 5 tahun terakhir. Angka kemiskinan turun dari 21,3% di tahun 2007 menjadi 14,6% di tahun 2011, yang berada di bawah rata-rata nasional seperti halnya angka pengangguran.

 Namun, berbagai tantangan masih dihadapi Sulawesi Tenggara. Pertumbuhan ekonominya masih harus mengangkat angka Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang saat ini masih di bawah angka PDRB per kapita nasional. Selain itu, kualitas hidup manusia masih perlu ditingkatkan yang tercermin dari angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih belum beranjak dari posisi ke-25 dari 33 provinsi.

Laporan tersebut menggarisbawahi capaian dan tantangan pada 4 sektor strategis. Di sektor pendidikan, kinerja pendidikan di Sulawesi Tenggara belum mampu menyumbang pada peningkatan IPM karena masih rendahnya angka melek huruf. Di sektor kesehatan masih terdapat kesenjangan kinerja yang cukup tinggi antara Kabupaten/Kota. Di sektor infrastruktur, laporan ini menyoroti pentingnya peranan Pemerintah Daerah di Sulawesi Tenggara untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur agar mendukung pertumbuhan sektor tersier (terutama perdagangan) yang tumbuh pesat akhir-akhir ini. Di sektor pertanian, terlihat pentingnya upaya revitalisasi sektor pertanian untuk menjadi penggerak pertumbuhan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Meski perekonomian Sulawesi Tenggara tumbuh di atas 8 persen, namun terjadi perlambatan angka pertumbuhan sektor pertanian dalam 3 tahun terakhir. Menanggapi hal ini, Akhmad Firman, ketua tim peneliti dari Universitas Haluoleo mengatakan, “Sebagai provinsi yang memiliki tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada sektor pertanian, perlambatan angka pertumbuhan sektor pertanian dalam 3 tahun terakhir harus segera dikoreksi.”

Sulawesi Tenggara memiliki peluang untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan. Hal ini terlihat dari belanja pemerintah daerah per kapita Sulawesi Tenggara yang termasuk 10 terbesar di Indonesia. Namun demikian, laporan tersebut merekomendasikan agar kebijakan dan program pemerintah harus lebih dipertajam dan efesiensi penggunaan anggaran harus lebih ditingkatkan. Gregorius D.V. Pattinasarany, Ekonom Senior Bank Dunia untuk Desentralisasi dan Pembangunan Daerah yang menjadi pengarah dalam penyusunan laporan ini mengatakan, “Sangat penting agar pemerintah daerah di Sulawesi Tenggara meningkatkan kualitas perencanaan dan penganggaran, sehingga alokasi belanja dapat dioptimalkan untuk mencapai target pembangunan dan peningkatan kinerja pelayanan publik.”

Pada tingkat provinsi, laporan menyebutkan adanya pemanfaatan instrumen belanja transfer (bantuan keuangan kepada daerah bawahan) oleh pemerintah provinsi dalam 2 tahun terakhir. Belanja transfer tersebut diperuntukkan untuk pembangunan di bidang pendidikan dan kesehatan. Ihsan Haerudin, ketua tim peneliti dari Bank Dunia mengatakan, “Informasi keuangan belanja transfer perlu diperbaiki sehingga komitmen pemerintah provinsi seperti  pendidikan gratis, beasiswa, pelayanan kesehatan gratis, block grant ke desa, dll yang tertuang dalam program Bahteramas dapat diketahui masyarakat dengan baik.”




Permanent URL for this page: http://go.worldbank.org/V1NIXLTIA0