Sistem multilateral memerlukan perbaikan fundamental, ujar Zoellick (Siaran Pers)

متاح باللغة: 中文, Tiếng việt, English, Português, Deutsch, ภาษาไทย, Tetum, Arabic, Español, Français, 日本語, русский
بيان صحفي رقم:2009/105/EXC

Contacts:

In Washington:
Carl Hanlon 202-4738087

chanlon@worldbank.org

Amy Stilwell 202-4584906
astilwell@worldbank.org

 

In Jakarta:
Randy Salim

Tel: + (62 21) 5299-3259

rsalim1@worldbank.org

 


Krisis keuangan global mendorong banyak negara berkembang menuju “titik jungkit”

WASHINGTON, 6 Oktober 2008 - Cara dunia mencoba menyelesaikan masalah ekonominya perlu dipikirkan kembali di tengah krisis global saat ini, termasuk mengubah Kelompok Tujuh (G7) menjadi Kelompok Pengendali yang memberdayakan negara-negara yang perekonomiannya meningkat, ujar Presiden Kelompok Bank Dunia Robert B. Zoellick.

Sambil merujuk pemilihan umum Amerika Serikat yang akan segera berlangsung, Zoellick mengatakan bahwa presiden baru harus beralih dari “pertempuran stabilisasi keuangan” ke penanganan “konsekuensi ekonomi”. Siapa pun yang memenangkan Gedung Putih harus bekerja sama dengan pihak lain dalam memodernisasikan sistem multilateral karena harus ada tanggung jawab bersama yang lebih besar untuk kesehatan dan efektivitas fungsi ekonomi global saat ini.

G7 tidak berfungsi dengan baik. Kita membutuhkan kelompok yang lebih baik untuk masa yang berbeda,” ujar Zoellick dalam pidatonya di depan Peterson Institute for International Economics di Washington D.C. “Demi kerja sama keuangan dan ekonomi, kita harus mempertimbangkan Kelompok Pengendali baru yang mencakup Brasil, China, India, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan G7.

Dalam menyambut Pertemuan Tahunan Kelompok Bank Dunia, Zoellick mengatakan bahwa Kelompok Pengendali baru harus lebih dari sekadar mengganti G7 dengan G14, karena hal ini akan berarti mengganti metode dunia lama untuk membuat kembali yang baru. Kelompok Pengendali harus berubah agar sesuai dengan perubahan keadaan, termasuk kekuatan-kekuatan baru, sambil berfungsi sebagai jaringan untuk interaksi rutin. Kita memerlukan semacam Facebook untuk diplomasi ekonomi multilateral,” ujar Zoellick .

Saat memberikan peringatan mengenai efek krisis keuangan, Zoellick mengatakan, “ Kejadian di bulan September dapat menjadi titik jungkit bagi banyak negara berkembang. Penurunan ekspor serta arus masuk modal akan memicu penurunan dalam investasi. Perlambatan pertumbuhan dan penurunan kondisi keuangan, bersama dengan pengetatan moneter, akan memicu kegagalan bisnis dan kemungkinan keadaan darurat perbankan. Beberapa negara akan jatuh ke dalam krisis neraca pembayaran. Seperti yang selalu terjadi, negara-negara termiskin akan menjadi yang paling rentan.”

Mantan diplomat Amerika Serikat, negosiator perdagangan dan eksekutif keuangan ini mengatakan bahwa multilateralisme ekonomi perlu didefinisikan ulang di luar fokus tradisionalnya pada keuangan dan perdagangan. Energi, perubahan iklim, serta stabilisasi negara-negara yang rentan dan pascakonflik merupakan masalah-masalah ekonomi dan bukan sekadar bagian dialog global mengenai keamanan dan lingkungan.

Zoellick mengatakan bahwa Multilateralisme Baru harus memberi nilai setara untuk pembangunan seperti halnya keuangan internasional, jika tidak, dunia akan tetap menjadi tempat yang tidak stabil. Namun, sistem bantuan tidak berfungsi cukup baik dan perlu bergerak jauh lebih cepat dan efektif untuk membantu mereka yang sangat rentan saat krisis terjadi. Kelompok Bank Dunia pun memerlukan reformasi. Zoellick mengumumkan pembentukan Komisi Tingkat Tinggi di bawah pimpinan mantan Presiden Meksiko Ernesto Zedillo untuk memodernisasi kepemerintahan Kelompok Bank Dunia.

Beralih ke pembicaraan perdagangan multilateral, Zoellick mengatakan bahwa putaran Doha telah mencapai jalan buntu” sehingga negara-negara harus mempertimbangkan fasilitasi perdagangan sebagai cara lain untuk memotong biaya perdagangan. “Ada peluang untuk memotong biaya perdagangan jauh melebihi yang dikenakan tarif dan hambatan perdagangan lain,” ujarnya.

Setelah menyebut pasar energi dunia sebagai “kekacauan”, Zoellick meminta “kesepakatan global” antara produsen dan konsumen energi. Kedua pihak dapat berbagi rencana untuk mengembangkan pasokan, meningkatkan efisiensi dan mengurangi permintaan; membantu energi bagi masyarakat miskin; serta mempertimbangkan bagaimana kebijakan-kebijakan ini berhubungan dengan kebijakan produksi karbon dan perubahan iklim.

“Harus ada kepentingan bersama dalam mengelola rentang harga yang menyatukan kepentingan-kepentingan sambil bergeser ke strategi pertumbuhan karbon yang lebih rendah, portofolio pemasok yang lebih luas, serta keamanan internasional yang lebih besar,” ujar Zoellick .

Zoellick menyatakan bahwa Kelompok Bank Dunia sedang mengembangkan prakarsa Energi bagi Masyarakat Miskin dengan sejumlah donor untuk membantu negara-negara miskin dalam memenuhi kebutuhan energi secara efisien dan berkesinambungan.  

 


أخبار أخرى ذات صلة

Bank Dunia Mendukung Program Peningkatan Kualitas Guru Indonesia melalui program senilai US$86 Juta
Bank Dunia kucurkan $123 juta untuk pemberdayaan masyarakat kecamatan
Program Bantuan Pembangunan US$600 juta untuk Mendukung Program Reformasi Indonesia



Permanent URL for this page: http://go.worldbank.org/QZOCIYKQN0