| Untitled Document Kontak:
Di Washington: Mohamad Al-Arief (1 – 202) 4585964 malarief@worldbank.org Di Jakarta: Randy Salim (62-21) 52993259 rsalim1@ worldbank.org Pertumbuhan ekonomi negara berkembang turun lebih dari perkiraan WASHINGTON, 11 November 2008 - Sambil meminta tanggapan cepat atas penyebaran krisis keuangan global, Kelompok Bank Dunia hari ini menyatakan akan meningkatkan dukungan keuangan bagi negara-negara berkembang, termasuk peluncuran atau perluasan empat fasilitas untuk sektor swasta yang terkena krisis. Saat memberikan pengumuman sebelum pertemuan G20 akhir minggu ini, Kelompok Bank Dunia menyatakan bahwa pemberian pinjaman bagi negara-negara berkembang dapat naik sampai hampir tiga kali lipat tahun ini menjadi lebih dari US$35 miliar dibandingkan dengan US$13.5 miliar tahun lalu. Keputusan ini akan meningkatkan komitmen baru sampai US$100 miliar dalam tiga tahun mendatang. Pada saat yang sama, Bank Dunia menurunkan perkiraan pertumbuhannya untuk perekonomian negara berkembang menjadi 4,4 persen untuk 2009 dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya sebesar 7,5 persen. “Pertemuan para pemimpin hari Sabtu ini yang akan mendiskusikan krisis keuangan global tidak boleh melupakan krisis kemanusiaan. Masyarakat termiskin dan paling rentan selalu mendapatkan dampak terberat,” ujar Presiden Kelompok Bank Dunia, Robert B. Zoellick. “Tanggapan atas krisis ini haruslah global, terkoordinasi, fleksibel, dan cepat. Walaupun tantangan harus diatasi di tingkat negara, semakin penting bagi masyarakat internasional untuk bertindak dengan cara yang terkoordinasi dan memberikan dukungan untuk mempermudah tugas masing-masing negara.” Kondisi kredit yang sangat ketat dan pertumbuhan yang lemah kemungkinan akan mengurangi pendapatan dan kemampuan pemerintah dalam berinvestasi untuk memenuhi tujuan pendidikan, kesehatan dan jender. Estimasi saat ini menunjukkan bahwa penurunan satu persen dalam tingkat pertumbuhan negara berkembang akan mendorong 20 juta orang ke dalam kemiskinan. Seratus juta orang sudah masuk ke dalam kemiskinan akibat harga pangan dan bahan bakar yang tinggi. “Krisis keuangan global, yang melanda begitu cepat menyusul krisis pangan dan bahan bakar, kemungkinan akan berdampak besar bagi masyarakat miskin di negara-negara berkembang,” ujar Zoellick. “ Dengan bekerja bersama IMF, badan-badan PBB, bank pembangunan regional dan pihak-pihak lain, Kelompok Bank Dunia membantu pemerintah dan sektor swasta melalui pemberian pinjaman, investasi modal, alat baru yang inovatif, dan program jaring pengaman.” Selain perluasan pemberian pinjaman, Kelompok Bank Dunia juga berupaya mempercepat pemberian hibah dan pinjaman jangka panjang dengan hampir tanpa bunga kepada 78 negara-negara termiskin dunia, yang 39 di antaranya berada di Afrika. Para donor tahun lalu memberikan komitmen sebesar US$42 miliar untuk dana International Development Association Bank Dunia untuk negara-negara ini. Sejumlah besar dana ini akan dicairkan lebih awal dari rencana untuk membantu negara-negara yang membutuhkan. Selain membantu para pemerintah yang kesulitan dana, Kelompok Bank Dunia meningkatkan dukungannya kepada pihak swasta melalui peluncuran atau perluasan empat prakarsa IFC, unit sektor swastanya. Dengan menggabungkan dana IFC dan dana yang dimobilisasi dari para pemerintah serta lembaga-lembaga keuangan internasional, fasilitas baru ini diperkirakan akan mencapai lebih dari $XX miliar dalam tiga tahun mendatang dan mengatasi masalah yang dialami sektor swasta karena krisis keuangan global. Hal ini mencakup: - Perluasan program pembiayaan perdagangan: IFC berencana untuk memperbesar Program Global Trade Finance senilai $1.5 miliar menjadi sekurangnya $3.0 miliar dalam waktu tiga tahun untuk memenuhi peningkatan besar dalam permintaan pembiayaan perdagangan jangka pendek. Peningkatan fasilitas ini akan memberi manfaat bagi bank-bank yang berpartisipasi di 66 negara, termasuk beberapa negara termiskin yang juga menerima dukungan IDA.
- Dana Rekapitalisasi Perbankan: IFC berencana untuk meluncurkan dana saham global untuk merekapitalisasi bank-bank yang mengalami kesulitan, karena semakin banyak kegagalan bank akan semakin merusak kegiatan ekonomi, sehingga memperburuk kemiskinan di negara-negara berkembang. IFC berharap untuk menginvestasikan US$1 miliar dalam tiga tahun mendatang dengan sekurangnya US$2 miliar disediakan oleh investor lain.
- Fasilitas Krisis Infrastruktur: Fasilitas baru IFC ini akan menyediakan pembiayaan bergulir dan membantu rekapitalisasi proyek-proyek infrastruktur yang didanai swasta, yang telah berjalan dan layak yang mengalami kesulitan keuangan. Dalam tiga tahun mendatang, IFC berharap untuk menginvestasikan US$300 juta dan memobilisasi antara US$1.5 miliar sampai US$10 miliar dari sumber lain.
- Layanan Pemberian Saran IFC: Untuk mengatasi peningkatan kebutuhan klien, IFC memfokuskan kembali program layanan pemberian saran yang telah ada - perbankan untuk usaha kecil dan menengah, sewa guna usaha, pembiayaan mikro, perumahan, kebijakan dan promosi investasi, serta operasi dan peraturan bisnis - agar dapat lebih membantu klien dalam krisis saat ini. IFC memperkirakan kebutuhan pembiayaan akan sekurangnya mencapai $40 juta dalam tiga tahun mendatang.
Unit asuransi terhadap risiko Kelompok Bank Dunia, Multilateral Investment Guarantee Agency, menyediakan likuiditas yang diperlukan pasar perbankan negara berkembang. Empat jaminan baru-baru ini telah disetujui untuk cabang-cabang bank Eropa di Ukrainia dan Rusia dalam mempertahankan kemampuan mereka untuk menyediakan pinjaman jangka menengah dan panjang bagi perusahaan-perusahaan Ukrainia dan Rusia. Jaminan serupa diperkirakan akan diberikan di Eropa Timur dan Afrika. |