| Untitled Document World Bank Office Jakarta Jakarta Stock Exchange BuildingTower 2, 12 th Floor (62-21-5299-3000) Contact : In Banda Aceh : Ratnasari Dewi: 08126992683, rdewi@worldbank.org In Jakarta : Randy Salim: (021) 5 299-3259, rsalim1@worldbank.org
Walaupun tren menurun, pertumbuhan di sektor pertanian dan konsumsi lokal yang kuat menunjukkan kemajuan ekonomi Banda Aceh, 13 November 2008 - Analisis bersama antara Bank Indonesia dan Bank Dunia mengenai perekonomian Aceh menunjukkan pertumbuhan konsumsi, penurunan stabil tingkat kemiskinan dan tingkat inflasi rendah seperti sebelum terjadi tsunami. Pemulihan dan pertumbuhan di sektor pertanian juga menunjukkan kemajuan ekonomi di luar upaya rekonstruksi. Aceh Economic Update terbaru menunjukkan bahwa konsumsi, baik swasta maupun publik, terus naik, bahkan melebihi 50% PDB. Hal ini didukung oleh tingkat pembelian kendaraan, listrik dan konsumsi bahan bakar yang terus meningkat di tahun 2008. Tingkat kemiskinan terus menurun dan BPS memperkirakan bahwa 23.5% populasi masih hidup di bawah garis kemiskinan, penurunan tajam dari tingkat kemiskinan sebelum tsunami. Sektor pertanian terus mengalami pemulihan dan bertumbuh 4,5 persen di semester pertama 2008. Hal ini merupakan hasil berakhirnya konflik dan investasi yang disediakan melalui bantuan rekonstruksi. Pertumbuhan dalam pertanian dipimpin oleh sektor perumahan dan pangan-pertanian. Untuk kali pertama sejak terjadinya tsunami, tingkat inflasi di Aceh lebih rendah daripada tingkat nasional, yang naik karena kenaikan harga pangan dan bahan bakar global. Perbandingan inflasi dari tahun ke tahun di Banda Aceh adalah 8,2 persen di bulan Agustus 2008, di bawah tingkat nasional sebesar 11,9 persen. “Penurunan inflasi memang sudah diperkirakan, karena perlambatan permintaan dari upaya rekonstruksi dan pemulihan rantai pasokan di provinsi ini”, ujar Enrique Blanco Armas, ekonom Bank Dunia di Kantor Perwakilan Jakarta. Tingkat pengangguran tetap merupakan tantangan utama untuk pengambil keputusan di Aceh, yang tetap lebih besar dari 9 persen, sama seperti tingkat nasional. Lapangan pekerjaan yang tercipta dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar merupakan bagian upaya rekonstruksi, sehingga bukan merupakan pekerjaan jangka panjang. Safriza Sofyan, Deputy Manager Multi-Donor Fund untuk Aceh dan Nias, mengatakan, “Bersamaan dengan keluarnya para pelaku rekonstruksi, kemungkinan bakal ada peningkatan tekanan pada tingkat pengangguran karena berakhirnya rekonstruksi. Investasi sektor swasta yang besar, terutama di bidang pertanian dan manufaktur terkait pertanian diperlukan untuk membalikkan tren ini”. Walaupun ada pertumbuhan positif dalam pertanian, upaya besar masih diperlukan untuk mendorong pertumbuhan di sektor nonmigas Aceh, yang di paruh pertama 2008 melambat menjadi 3,1 persen. Sektor-sektor terkait upaya rekonstruksi menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah atau bahkan negatif. Sementara itu, sektor migas terus turun, akibat dari habisnya cadangan gas, di mana produksi turun hampir 20 persen di paruh pertama 2008. Aceh Economic Update diterbitkan dua kali setahun, sebagai upaya untuk menganalisis dampak tsunami dan upaya rekonstruksi di Aceh, terutama didasarkan pada analisis statistik resmi pemerintah yang diterbitkan oleh BPS dan Bank Indonesia. Untuk mengakses laporan ini dan membaca lebih lanjut dukungan Bank Dunia untuk rekonstruksi Aceh, kunjungi: www.worldbank.org/id/reconstruction |