Click here for search results

Gelombang Radio Membantu Masyarakat dalam Memulihkan dan Membangun Kembali Aceh dan Nias

Available in: English

Aceh, Indonesia, 13 November 2006 – Dua tahun setelah tsunami, rehabilitas dan rekonstuksi lambat laun mengubah daerah-daerah yang hancur di Aceh, termasuk desa Meunasah Kedee di Aceh Besar. Tidak hanya bangunan rumah-rumah baru yang terlihat di tempat-tempat yang dulunya hancur, tapi juga sekolah, meunasah dan puskesmas. Satu hal yang membuat desa ini spesial dibanding sebelumnya, yaitu kehadiran sebuah stasiun radio baru.

youth activists

Aktivis muda dan staf MKe FM
 

Radio MKe FM (MKe: Meunasah Kedee) mengudara setiap hari dari bangunan meunasah yang masih dibangun kembali pada gelombang 107,8 FM. Radio anggota ARRnet (Aceh Reconstruction Radio Network) ini memberikan warna baru bagi masyarakat. Kepala Radio MKe, Adi (25) mengatakan, “Keberadaan radio ini membantu kami cepat bangkit karena radio ini memberikan kami kesibukan baru setelah tsunami.”

Dengan delapan orang penyiar, radio ini menjangkau delapan desa – tidak hanya dengan lagu dan program-program hiburan tapi juga informasi penting yang berkaitan dengan proses rekonstruksi. “Sejak awal berdirinya, saya telah menggunakan radio ini untuk mengumumkan pertemuan-pertemuan desa,” katanya lagi. Hal ini disetujui oleh Kepala Desa Meunasah Kedee Syahrizal, “ini merupakan cara yang sangat efektif untuk menyebarkan undangan.”

Talk Show

Talk show di MKe FM

Rika, penyiar MKe yang lain, mengatakan, “Beberapa NGO yang bekerja di area ini juga telah memakai radio ini untuk menyebarkan informasi tentang bantuan.” Bekerja di radio ini juga memberikan kelebihan-kelebihan baginya, “Saya bertemu teman-teman baru, orang-orang jadi tahu bahwa saya adalah peniyar radio. Kita menjadi cukup terkenal karenanya!” Sumber penting untuk berita-berita kemajuan pembangunan di Aceh adalah Ceureumen, tabloid dua mingguan yang didukung oleh Bank Dunia – yang ditangani oleh Decentralization Support Facility (DSF).

Sebagian besar dari pengurus radio ini adalah aktivis-aktivis pemuda yang meluangkan waktu luang mereka setelah sekolah, kuliah atau bekerja untuk mengembangkan program-programnya. Pada awal-awal berdirinya, radio ini mengadakan acara dialog interkatif tentang sex bebas di kalangan pemuda dan mengundang seorang psikolog sebagai nara sumber untuk mendiskusikan perubahan perilaku setelah trauma akibat bencana dan konflik. “Kami juga mempunyai program spesial untuk anak-anak di pagi hari, karena tidak hanya orang-orang dewasa yang menderita akibat tsunami,” jelas Adi. Selama bulan Ramadhan, radio ini mengudarakan dialog interaktif khusus dengan mendatangkan para ulama. Hal ini mencerminkan penerapan syariah Islam yang saat ini menjadi kunci utama pembangunan Aceh.

ARRnet logo

Website jaringan

 

ARRnet telah membangun 21 radio komunitas sampai hari ini; lima di antaranya berada di bawah naungan AERnet (Aceh Emergency Radio Network). AERnet dibangun segera setelah tsunami untuk memenuhi kebutuhan informasi dan komunikasi masyarakat. Di tahun 2007 ini, sebanyak 15-20 radio direncanakan akan dibangun untuk menguatkan hubungan antara donor dan masyarakat.

Aspek penguatan masyarakat sebagai hasil langsung adanya radio komunitas ini juga terlihat di beberapa daerah yang lain. Misalnya, pameran hasil masyarakat dilaporkan oleh Kuala Gigieng FM (kecamatan Baitussalam), festival menyanyi anak-anak dilaporkan oleh Suara Ukhuwah FM (kecamatan Masjid Raya), dan program penyebaran bantuan kepada korban tsunami di barak-barak dilaporkan oleh Suka FM (kecamatan Suka Makmur).

Radio ini memberikan kami kesibukan baru setelah tsunami...”

Adi, 25, Kepala Radio Mke
 

Di Radio Sukma FM, desa Suka Makmur kecamatan Suka Makmur, beberapa anggota PEKKA juga aktif menjadi penyiar. PEKKA adalah sebuah program pemberdayaan perempuan yang menjadi kepala keluarga, didanai oleh Japan Social Development Fund (JSDF) dan ditangani oleh Bank Dunia. “Radio ini membantu dalam membangun jaringan antara anggotanya, kami menyebarkan informasi tentang pertemuan-pertemuan dan aktivitas-aktivitas yang menguatkan kepemimpinan – kami juga pernah menggunakan rado ini untuk mendistribusikan kuisioner kepada anggota-anggota PEKKA di kecamatan ini tentang ketertarikan mereka akan program,” kata Maryani (30), kader PEKKA yang juga penyiar Sukma FM.

Pekka

Anggota PEKKA yang aktif bergabung
dengan Sukma FM Radio

COMBINE saat ini mulai memberikan pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mengoperasikan radio-radio komunitas di desanya. “Saat ini, kami memfokuskan kepada dua hal, jurnalistik radio dan program radio. Kami berharap, hal ini dapat meningkatkan kualitas siaran dan isi program-programnya, kata Henky Satrio, ARRnet program manager. “Lewat radio komunitas ini, kami juga berharap dapat memfasilitasi dialog dua arah antara masyarakat dan organisasi-organisasi pemberi bantuan,” kata Imam Prakoso, Direktur COMBINE.

COMBINE (www.combine.or.id) adalah LSM lokal yang mengimplementasikan program komunitas radio di Aceh dan Nias.




Permanent URL for this page: http://go.worldbank.org/E5VKVRYFF0